Selling Ethic Dissorder

Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta kreativitas menjadi ‘godaan’ tersendiri dalam melakukan penjualan.

Beberapa waktu lalu beberapa teman mengeluhkan operator selulernya yang beriklan dengan cara menelepon (what??). Untunglah saya tak pernah menggunakan jasa operator yang bersangkutan pikir saya dalam hati. Meski tak lantas saya bebas dari berbagai tawaran dan iklan yang mengganggu privasi.

Ketika fasilitas surat elektronik (e-mail) mulai marak digunakan muncullah spammer yang mengirimkan berbagai penawaran baik secara acak maupun tidak melalui fasilitas tersebut.

Saya terpaksa me-remove beberapa teman di Facebook yang sebenarnya ada dalam satu komunitas sama karena sering beriklan melalui wall. Saya terpaksa pula menghilangkan fasilitas komentar dan shoutbox pada blog karena spammer. Saya sempat terbangun di malam hari karena operator seluler CDMA saya mengirimkan SMS iklan sebelum akhirnya saya pilih mematikan ponsel di malam hari.

Sering saya dibuat jengkel oleh tawaran-tawaran indeks, saham, dll yang masuk ke telepon dan diulang-ulang meski saya sudah tegas menyatakan tak berminat.

Sempat pula saya merasa jengkel ketika dalam sebuah negosiasi bisnis dimana saya menunggu update informasi dari asisten melalui SMS yang bisa menentukan arah negosiasi ini ternyata yang saya terima justru SMS beruntun berisi iklan kampanye salah satu calon walikota lengkap dengan nama dan program-programnya.

Sebenarnya tak setiap e-mail penawaran yang diterima saya rasakan sebagai spam. Adakalanya penawaran itu bermanfaat bagi saya untuk ditindaklanjuti (meskipun sejauh ini tetap belum ada SMS iklan yang saya rasakan manfaatnya).

Jadi tak salah menggunakan berbagai channel atau media untuk melakukan penjualan. Namun penting juga untuk tetap memperhatikan etika dan menghargai privasi seseorang.

Pada kasus saya dimana beberapa e-mail penawaran atas suatu jasa atau barang terasa bermanfaat bagi saya menujukkan bahwa media-media yang ada layak untuk dimanfaatkan dan memiliki potensi untuk menghasilkan sebuah penjualan.

Penting bagi para penjual barang atau jasa untuk terlebih dahulu mencari informasi kepada siapakah penawaran tersebut diberikan. Pelajari terlebih dahulu latar belakang, ketertarikan, profesi dan informasi lain yang dibutuhkan untuk menentukan apakah sekiranya penawaran ini akan bermanfaat bagi si penerima.

Jadi teknik acak jelas bukanlah jawaban karena bukan saja kecil peluangnya untuk terjadi transaksi namun bahkan akan merusak citra perusahaan dan penjual yang bersangkutan. Sebenarnya ilmu pemasaran sudah jauh-jauh hari membahas pentingnya informasi pelanggan namun entah mengapa sampai saat ini masih terjadi penawaran acak. Apakah informasi dari departemen pemasaran tak termanfaatkan oleh departemen penjualan? Ataukah memang keterbelakangan etika pada perusahaan dan eksekutor di lapangan yang bermasalah? (Satrio)