Manajemen Krisis ala Williams Martini Racing

Pekan lalu untuk kesekian kalinya seri Malaysia Grand Prix diwarnai dengan kontroversi team orders. Tentu masih segar dalam ingatan kontroversi tahun lalu yang terjadi di seri dan sirkuit yang sama. Kejadian pertama adalah insiden yang kemudian dikenal dengan insiden “multiple 21”. Tak ada penjelasan resmi dari tim Infiniti Red Bull Racing mengenai apa yang dimaksud oleh Horner kala itu ketika meneriakkan “multiple 21” kepada kedua pembalapnya.

Namun berita yang beredar meyakini bahwa kala itu Horner selaku Principal tim memerintahkan agar kedua mobil mempertahankan posisinya hingga finish. Kala itu Mark Webber (mobil dengan nomor start 2) berada di depan dan Sebastian Vettel (mobil dengan nomor start 1) di belakangnya, namun Seb pilih mengabaikan perintah tersebut dan melawan Mark yang tidak dalam kondisi siap ditohok dari belakang oleh rekan setimnya itu. Pada akhir lomba Mark tampak kesal dan berkali-kali menyebut “Multi 21 Seb! Multi 21!” kepada Sebastian.

Masih pada event yang sama, tim Mercedes AMG Petronas pun melakukan perintah serupa kepada dua pembalapnya Lewis Hamilton dan Nico Rosberg. Nico yang kala itu memimpin lomba diperintahkan untuk memberi jalan pada Lewis, padahal Nico jelas-jelas lebih cepat ketimbang Lewis.

Akhirnya tiga pembalap yang naik ke podium kala itu yaitu Sebastian Vettel, Mark Webber dan Lewis Hamilton tercatat sebagai tiga pembalap dengan wajah tersuram yang pernah naik podium. Sebastian dan Mark berselisih soal “multi 21”, sementara Lewis merasa bersalah “merampok” podium Nico meski atas nama perintah tim.

Baik Infiniti Red Bull maupun Mercedes AMG Petronas pilih mengelak dari pertanyaan media seputar kejadian tahun lalu di Sepang itu dan memilih move on meski faktanya para penggemar Formula 1 maupun media tak bisa begitu saja melupakan.

Akhirnya di musim balap 2014 kejadian serupa kembali terulang di Sepang. Tak tanggung-tanggung kini tindakan kontroversial itu dilakukan oleh salah satu tim legendaris Williams Racing yang untuk tahun ini namanya menjadi Williams Martini Racing.

Williams Martini Racing, 2014

Williams Martini Racing, 2014

Beberapa lap terakhir, Rod Nelson, Chief Operations Engineer tim Williams Martini Racing memerintahkan kepada Felipe (Massa) untuk memberi jalan kepada Valtteri (Bottas) yang berada tepat di belakangnya.

Felipe menolak perintah tersebut dan seusai lomba meski Claire Williams sang Deputy Principal pilih tidak berkomentar namun Rod membela dirinya dan menyalahkan Felipe yang tidak patuh terhadap perintah tim. Menurut Rod kala itu kondisi mobil dan ban Valtteri jauh lebih baik ketimbang Felipe, bahkan jika Felipe memberi jalan maka Valterri berpeluang mendahului mobil McLaren F1 yang dikemudikan Jenson (Button) karena kecepatan rata-rata Valtteri lebih baik dibanding Jenson.

Selepas itu kontroversi tak lantas berhenti atau bahkan menyurut. Para fans Williams Racing merasa dikhianati sebab selama bertahun-tahun tim ini terkenal sebagai salah satu tim yang disegani di dunia Formula 1 bukan hanya karena usia serta prestasinya di masa lalu namun juga karena kredibilitasnya dalam menjaga nilai-nilai sportivitas.
Dan apa yang dilakukan pada kedua pembalapnya terutama kepada Felipe pekan lalu dianggap mencederai citra dan harapan para pendukungnya akan salah satu tim tertua yang masih bertahan di Formula 1 ini bersama McLaren F1.

Bukan hanya fans, namun para pengamat bahkan beberapa mantan pembalap Formula 1 pun ikut angkat bicara. Beberapa mendukung keputusan Felipe atas nama sportivitas, sementara beberapa sisanya mengkritik Felipe karena balap Formula 1 dianggap adalah permainan tim, dan menolak perintah tim adalah sebuah kesalahan yang tak bisa ditolerir.

Terlepas dari dua kubu baik yang pro maupun yang kontra ternyata Claire Williams tampil mewakili tim dengan sangat elegan di depan media beberapa saat menjelang dimulainya Bahrain Grand Prix.
Claire tidak membenarkan timnya namun tidak pula menjadikan Rod sebagai kambing hitam.

Pada penjelasannya di hadapan media Claire selaku Deputy Principal dari tim yang didirikan oleh ayahnya itu mengakui bahwa team order adalah sebuah kesalahan. Karenanya kepada fans maupun Felpe dan Valtteri pihaknya menyampaikan permintaan maaf.
Di saat yang sama Claire juga menegaskan bahwa para mekanik di sisi sirkuit mengalami tekanan yang sama beratnya dengan pembalap di lintasan, karenanya wajar jika kadang kala mereka melakukan kesalahan seperti melakukan team order sebagaimana terjadi di Sepang pekan lalu.
Dan di akhir penjelasannya itu Claire menegaskan bahwa tim Williams Racing akan menangani situasi (tekanan) dengan cara berbeda di masa depan.

Penjelasan itu memang singkat, namun sangat besar maknanya.

Bukan rahasia jika kondisi tim asal Inggris tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini sangatlah buruk. Pada akhir tahun 1997 tim itu ditinggalkan Adrian Newey yang hengkang ke McLaren dan kerja sama dengan Renault sebagai penyedia mesin Williams sejak tahun 1989 harus berakhir setelah pabrikan otomotif asal Perancis itu memutuskan hengkang dari Formula 1.

Semenjak itu Williams Racing minim prestasi, padahal sebelumnya tim ini melahirkan demikian banyak pembalap legendaris seperti Alan Jones, Carlos Reutemann, Clay Reggazoni, Keke Rosberg, Nigel Mansell, Damon Hill, Jenson Button, Alain Prost, Nelson Piquet, Juan PabloMontoya, Jacques Villeneuve dan sang legenda Ayrton Senna.

Damon Hill - David Coulthard

Damon Hill – David Coulthard

Nigel Mansell, 1986

Nigel Mansell, 1986

Memasuki musim balap 1998 hingga awal 2014 ini tim yang dikomandani oleh duet ayah-anak Frank dan Claire Williams ini belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan meski para pra musim kemarin performanya tampak menjanjikan. Akibat minim prestasi tersebut kondisi finansial tim juga terus memburuk, kini bersama Lotus F1 dan Sauber F1 ketiganya menjadi tim yang paling memprihatinkan dari segi finansial di ajang balap Formula 1.

Alih-alih memulihkan citranya lewat prestasi yang tak kunjung datang, manajemen krisis dengan memanfaatkan momentum team order yang terjadi di Sepang pekan lalu merupakan public relations yang sangat cerdas dan layak diacungi jempol.

Bukannya mengalihkan isu atau membela diri, tim asal Inggris tersebut justru tak menyia-nyiakan momen yang awalnya berpotensi mencoreng reputasi mereka itu menjadi sebuah pembalikan yang amat elegan.

Jelas Williams Martini Racing bukanlah Infiniti Red Bull ataupun Mercedes AMG Petronas. Dari segi prestasi maupun kekuatan finansial dalam beberapa tahun terakhir memang kedua tim yang disebut belakangan tersebut jauh lebih baik ketimbang Williams, dan meski dari segi organisasi baik Infiniti Red Bull Racing maupun Mercedes AMG Petronas di belakangnya berdiri organisasi (korporasi) yang kuat namun keduanya tidak memiliki basis penggemar serta pengalaman yang mengakar sebagaimana dimiliki oleh tim-tim seperti Williams Racing, McLaren F1, Scuderia Ferrari atau Sauber Motorsport AG.

Bagaimana Williams Racing menangani krisis dan menyelesaikannya dengan elegan menunjukkan bahwa masih ada tim-tim di Formula 1 dengan semangat serta idealisme yang mewakili semangat balap Formula 1 mula-mula sebelum kekuatan finansial pada akhirnya mengambil alih dan mengubah peta persaingan pada dunia tersebut belakangan ini.

Selayaknya nilai-nilai serta karakter semacam itu dipelajari pula oleh tim-tim papan atas masa kini seperti Infiniti Red Bull Racing dan Mercedes AMG Petronas yang hadir belakangan dengan sokongan dana seolah tak tebatas.