Launching Product ala AHM

Sudahkah Anda melihat film berjudul “the Street Heroes” yang ditayangkan oleh Trans TV pada hari Minggu 7 Desember pukul 21.00 WIB yang lalu? Film ini sendiri tidak terlalu istimewa dalam pandangan saya, bahkan terkesan agak meniru film Batman hanya saja sang jagoan dalam film ini tidak terlalu menyembunyikan identitasnya.

Tapi saya tak hendak membahas alur cerita, tokoh maupun hal teknis lain terkait dengan film itu sendiri karena kalau bicara soal film saya tak lebih dari sekedar penonton saja yang tidak paham unsur seni dan teknisnya. Hal yang ingin saya tekankan di sini yang tentu disadari juga oleh Anda yang menyaksikan film tersebut atau setidaknya pernah melihat iklannya adalah keberadaan produsen Honda sebagai pendukung acara tersebut.

Kenapa tiba-tiba sebuah produsen sepeda motor muncul sebagai pendukung sebuah film? Kenapa bukannya disponsori oleh produsen kacang atau kopi yang produknya cocok sebagai teman nonton? Apakah Honda begitu kelebihan biaya promosi sehingga menggelontorkan kelebihan dananya untuk menjadi pendukung sebuah film di televisi?

Tentu bukan tanpa alasan sebab Honda sendiri memiliki tim marketing yang smart dan jelas tidak asal-asalan. Lalu kira-kira apa alasannya? Well, tidak lain dan tidak bukan adalah product launching varian terbaru PT. AHM. Lalu kenapa memilih film sebagai medianya? Secara pasti saya sendiri juga tidak bisa memberikan jawaban karena saya bukan tim marketing maupun konsultan pemasaran PT. AHM :) . Hanya saja sebagai pengamat saya ingin memberikan analisa saya karena fenomena ini cukup menarik di mata saya.

Alasan pertama selain memperkenalkan produk adalah memperkuat kesadaran merk, tapi entah benar atau tidak saya melihat alasan lain. Sadarkah Anda bahwa sebagai konsumen ada hal dalam diri Anda yang menarik bagi penjual/produsen? Ya tentu bukan semata-mata keinginan dan kemampuan beli, meski ujung-ujungnya harus jujur diakui memang demikian. Namun perlu proses yang cukup panjang untuk menarik minat konsumen tertarik pada suatu produk apalagi hingga akhirnya melakukan keputusan pembelian.

Salah satu cara dalam menarik minat konsumen adalah melalui pembentukan sikap. Pemasar memiliki kepentingan untuk membentuk sikap konsumen yaitu dari tidak ada menjadi ada. Bisa juga mengubah sikap yang sudah ada agar menjadi lebih kuat lagi atau bahkan mengubah untuk bertindak lain dalam melakukan pertimbangan. Bukan rahasia lagi bahwa mempertahankan dan memperkuat sikap konsumen menjadi kunci strategi bagi pemasar untuk menikmati posisi sebagai pemimpin pasar dan bahkan menjaga loyalitas konsumen.

Sementara bagi pemasar yang berada dalam posisi sebagai penantang akan berusaha mengubah sikap konsumen. Bagaimana strategi yang bisa ditempuh untuk memperkuat maupun mengubah sikap konsumen? Setidaknya ada 5 hal yang akan terlalu panjang jika dijabarkan dalam satu tulisan. Namun salah satunya adalah membentuk asosiasi produk dengan mengaitkan pada suatu hal.

Asosiasi produk atau merk biasanya akan membuat konsumen lebih ingat akan fitur-fitur dan keunggulan yang ditawarkan oleh sebuah produk atau merk ketimbang secara gamblang menjelaskan keunggulan tersebut satu per satu.

Pembentukan asosiasi melalui film sebenarnya bukan hal yang baru, di luar negeri misalnya pabrikan Dodge pernah melakukan dalam serial “Viper”, BMW dan Aston Martin lewat film “James Bond”. Sedang di Indonesia dalam industri roda dua tampaknya Honda menjadi yang pertama. Efektifkah langkah yang digunakan oleh PT AHM ini? Perlu waktu untuk melihat hasilnya, namun yang jelas langkah ini pantas diacungi jempol ketimbang edukasi atau promosi yang terkesan hard selling. Coffee Bean sebenarnya sudah lebih dahulu menggunakan media yang sama lewat acara “the Coffee Bean Show” namun sekali lagi untuk indutri roda dua tampaknya PT. AHM menjadi yang pertama.

Secara pribadi saya berpikir bahwa ke depan PT. AHM perlu mencontoh apa yang dilakukan oleh BMW dan Aston Martin melalui film “James Bond” atau Coffee Bean dalam “the Coffee Bean Show” jika memang masih berencana menggunakan media film. Yang saya maksudkan adalah tidak semata-mata menggunakan film sebagai media promosi yang halus namun juga membuat film tersebut memiliki alur cerita yang dapat dinikmati.

Dari segi cara promosi secara umum yang dilakukan oleh PT. AHM terkesan soft promotion hanya saja jika dibandingkan tiga prinsipal yang saya sebut di atas rasanya yang dilakukan oleh PT. AHM masih tergolong hard promotion. Saya menilainya demikian karena filmnya sendiri sungguh-sungguh diperlakukan sebagai sebuah media, bukan seni yang bisa dinikmati pula oleh penonton. Tapi jangan pula terlalu soft karena bisa-bisa pesannya tidak tersampaikan dengan baik, akibatnya tentu saja pemborosan biaya promosi. (Satrio A. Wicaksono)