Ada Apa Dibalik Penangguhan SOPA?

Jangan disalahartikan bahwa tulisan sebelumnya mengenai “Ada Apa Dengan SOPA” adalah sikap pro terhadap perusahaan-perusahaan penentang SOPA. Jangan pula begitu saja diartikan bahwa penangguhan SOPA adalah kemenangan ‘”rakyat”. Lebih-lebih jangan pernah mengartikan bahwa perusahaan-perusahaan anti SOPA adalah mereka yang pro “rakyat”.

Ada hal yang patut diwaspadai dibalik kemenangan perusahaan-perusahaan penentang SOPA seperti Google atau Wikipedia yang beberapa waktu lalu sempat melakukan aksi “blackout” sebagai bentuk penolakan terhadap SOPA.

Aksi “blackout” yang dilakukan oleh beberapa perusahaan ini memiliki satu tujuan yaitu membuat semua orang (pengguna internet) “peduli” akan dampak yang mungkin ditimbulkan jika SOPA akhirnya disahkan dan diberlakukan.

Protes dari jutaan pengguna internet terhadap SOPA memang menjadi salah satu faktor yang menjadikan aturan tersebut ditangguhkan. Tapi jika dirunut kebelakang timbul sebuah pertanyaan mengenai apa yang memicu begitu banyak pengguna internet di berbagai belahan dunia tiba-tiba memberikan suaranya untuk menolak SOPA? Bukankah pada awalnya tidak banyak orang peduli atau bahkan tahu apa itu SOPA? Lebih-lebih dampak yang ditimbulkannya?

Sebagaimana telah disebut sebelumnya bahwa memang SOPA lebih merupakan perang bisnis antara perusahaan yang mengedepankan inovasi dengan perusahaan yang mengedepankan lobi. Meski keduanya saling bertentangan namun masing-masing memilki tujuan yang sama: mengukuhkan posisinya di pasar.

Tindakan beberapa situs penentang SOPA yang melakukan “blackout” tidak semestinya diartikan sebagai kepedulian dari perusahaan-perusahaan tersebut terhadap kepentingan pengguna internet secara luas atau kesamaan kepentingan antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan masyarakat secara umum.

“Blackout” yang dilakukan Google, Wikipedia dan lain-lain adalah tindakan sepihak yang “memaksa” para pengguna internet untuk “peduli” tentang apa yang sedang terjadi sehingga mereka (pengguna internet) memberikan suaranya yang notabene adalah memenangkan kepentingan perusahaan-perusahaan anti SOPA.

OK lah mungkin untuk kasus ini antara perusahaan-perusahaan penolak SOPA dengan mayoritas pengguna internet memiliki preferensi yang sama, namun bukan berarti perusahaan-perusahaan tersebut peduli atau memiliki kepentingan sama.
Hal yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan dari perusahaan-perusahaan untuk memanfaatkan pelanggannya mendukung kepentingan perusahaan tersebut.

Aksi “blackout” tentu sangat merugikan pengguna internet yang notabene adalah pelanggan situs-situs tersebut. Karena merasa terganggu mereka mencari tahu alasan situs tersebut melakukan “blackout”. Dan sudah bisa ditebak bahwa pelanggan/pengguna akhirnya melihat SOPA sebagai biang keladi di balik aksi tersebut.

Padahal bukankah pelaku aksi”blackout” yang terang-terangan secara langsung merugikan konsumen adalah justru perusahaan-perusahaan itu sendiri?

Kecenderungan semacam ini sebenarnya tak hanya terjadi di dunia maya. Perusahaan transportasi (di Indonesia utamanya) adalah aktor yang paling sering melakukan aksi semacam ini. Ketika ada peraturan baru yang dirasa tidak sesuai maka kru dan armadanya melakukan mogok, padahal logikanya yang ditentang adalah pembuat peraturan sementara yang dirugikan adalah pelanggan.

Maraknya kampanye CSR kalau dicermati seringkali juga lebih merupakan upaya dari perusahaan untuk “memaksa” pelanggan melakukan sesuatu atas nama CSR, terlepas apakah hal tersebut merugikan atau menguntungkan pelanggannya. Pastinya semakin pelanggan dirugikan maka semakin besar peluang aturan tersebut ditangguhkan atau direvisi.

Apakah aksi yang dilakukan oleh perusahaan penentang SOPA, perusahaan dan awak transportasi, atau perusahaan-perusahaan yang mengatasnamakan CSR merupakan taktik yang jenius untuk mencapai tujuan? Atau strategi yang tidak bijaksana? Tolol dari segi taktik tapi cerdas dari secara strategi?

Yang manapun itu tentu ada beribu alasan untuk membenarkan tindakan masing-masing, namun ketika bicara mengenai etika sudah pasti hanya ada satu jawaban: sebuah praktik bisnis yang tidak etis!