Tantangan Baru Sang Produsen BlackBerry

Setelah mengalami tahun-tahun yang buruk akibat gagal bersaing di pasar smartphone, Heins mantan COO RIM akhirnya dipercaya oleh para investor menjadi CEO menggantikan duet CEO sebelumnya.

BlackberryDitengah harapan yang tinggi terutama dari para investor, tugas Heins tidaklah ringan. Kesuksesan Apple dan Android menciptakan trend baru di industri smartphone sekaligus kesalahan manajemen sebelumnya dalam mengantisipasi perubahan serta mempertahankan kompetensi adalah tantangan utama bagi manajemen baru.

Perubahan manajemen strategik besar-besaran tak mungkin lagi dapat dihindarkan untuk sebuah organisasi yang sedang berada dalam posisi kritis sebagaimana dihadapi oleh RIM. Namun perubahan yang demikian selalu mendapatkan resistensi dari dalam organisasi itu sendiri.

Perubahan strategi secara signifikan umumnya akan melibatkan banyak pihak, dimana masing-masing pihak tentu memiliki opini dan sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Pada sisi lain situasi krisis yang dihadapi oleh sang produsen BlackBerry menghendaki adanya sebuah keputusan dan eksekusi yang cepat.

Kolaborasi dan mempersatukan setiap pihak adalah hal penting dalam situasi semacam ini, namun demikian proses menyatukan pendapat untuk mencapai kesepakatan tentu adalah sebuah proses yang panjang dan memakan waktu. Sementara waktu adalah hal yang tidak dimiliki lagi oleh RIM saat ini mengingat para investor menghendaki perbaikan kinerja secepatnya.
Pada kondisi demikian beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin antara lain:

Mendefinisikan tantangan. Diskusi mengenai penentuan arah dan kebijakan sebuah organisasi akan menghasilkan begitu banyak opini dari para eksekutif sebuah organisasi. Karenanya pemimpin harus mampu memilih dan memilah setiap pendapat, menemukan kesamaan dan memahami sudut pandang dari setiap eksekutif yang menyampaikan opininya.

Dari proses itulah seorang pemimpin akan dapat mendefinisikan apa yang sebenarnya menjadi tantangan bagi organisasinya. Dalam kasus RIM mungkin saja adalah perubahan perilaku konsumen smartphone, atau mungkin juga hilangnya pengaruh Manajer IT sebuah perusahaan dalam memengaruhi keputusan beli perusahaan dan individu di dalamnya.

Menentukan tujuan organisasi. Mengubah arah dan tujuan organisasi tidaklah mudah, selain menimbulkan resiko politik acapkali sikap arogan akan keberhasilan masa lalu turut menjadi penghalang. Itu sebabnya semakin besar sebuah organisasi semakin sulit pula melakukan perubahan.

Meski demikian kondisi yang dihadapi organisasi seperti RIM tidak menyediakan banyak pilihan selain melakukan perubahan arah dan tujuan organisasi. Perubahan tidak harus selalu frontal, sebaliknya mungkin masih ada keunggulan-keunggulan kompetitif dari organisasi tersebut yang bisa dijadikan jangkar.

Dalam kasus RIM bisa saja perubahan tujuan organisasi itu adalah dengan memosisikan diri sebagai perusahaan penyedia keamanan data atau bandwith management yang memang saat ini masih menjadi keunggulan mereka. Atau bisa juga memanfaatkan posisi mereka yang masih kuat di emerging market seperti Indonesia dengan menjadi produsen smartphone low-end.

Mempertimbangkan alternatif pilihan secara bijak. Selain mengubah arah dan tujuan perusahaan, kemitraan adalah juga hal yang perlu dipertimbangkan. Alih-alih mempersiapkan tablet baru yang rencananya akan diluncurkan pada akhir tahun 2012 ini ada baiknya RIM mempertimbangkan merger dengan perusahaan IT lain.

Harus diakui bahwa rencana RIM meluncurkan BlackBerry Playbook 2 sebagai senjata pamungkas yang diharapkan akan membalikkan kondisi perusahaan bak punguk merindukan bulan. Dari segi brand, nama Blackberry Playbook telah “dinodai” oleh kegagalan BlackBerry Playbook generasi sebelumnya. Dari segi peta kompetisi jelas bahwa para kompetitor lebih kuat dalam penguasaan pasar dan teknologi.

Pun jika dipaksakan meluncurkan tablet BlackBerry Playbook 2 pada akhir tahun 2012, mungkin RIM sebaiknya menghindari kompetisi head-to-head dengan para pemain yang lebih mapan dan berfokus misalnya pada tablet yang lebih sederhana, memiliki tingkat sekuritas tinggi dan secara khusus dirancang untuk segmen korporat.

Menentukan strategi yang efektif dalam kondisi organisasi yang kritis memang tidaklah mudah karena erat kaitannya dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan lama, budaya lama, arogansi kesuksesan masa lalu dan intrik-intrik politik dalam organisasi sendiri. Namun demikian jelas bahwa menghindari konflik dan mempertahankan status quo adalah pilihan yang akan membuat organisasi jatuh lebih dalam lagi.