
Tulisan kali ini dan empat tulisan mendatang membahas hal-hal terkait eksekusi. Setelah pengetahuan yang dibutuhkan telah dimiliki maka tahap selanjutnya adalah eksekusi, ada hal-hal yang menjadi kebiasaan para pemimpin efektif terkait eksekusi. Pertama adalah merancang ‘action plans’
Banyak orang yang mencibir pentingnya membuat ‘action plan’. Benar bahwa seorang pemimpin merupakan eksekutor atau pelaku. Pemimpin tidak dinilai dari pengetahuan yang dimiliki namun dari keputusan yang dibuatnya. Namun sebelum membuat sebuah keputusan adalah penting baginya untuk mebuat sebuah perencanaan.
Dalam rencana tersebut haruslah disebut mengenai hasil yang hendak dicapai, hambatan yang mungkin terjadi dan juga bagaimana dia sendiri akan mengalokasikan waktu dalam pelaksanaan nantinya.
Terkait dengan hasil yang hendak dicapai mula-mula seorang pemimpin haruslah bertanya dengan jujur pada dirinya sendiri: “Apakah yang diharapkan oleh organisasi dari saya dalam masa kepemimpinan ini?†Jawaban dari pertanyaan tersebut harus terbagi dalam jangka pendek, menengah dan panjang.
Jawaban tersebut selanjutnya menjadi dasar pijakan awal untuk menentukan langkah berikutnya. Namun perlu juga diperhatikan bahwa tindakan yang hendak diambil berdasarkan jawaban pertanyaan tadi haruslah sesuai dengan etika, norma dan aturan yang berlaku baik dalam organisasi maupun di lingkungan tempat organisasi tersebut berada.
Tentu saja memenuhi unsur-unsur di atas tidak menjamin bahwa tindakan yang nantinya akan dilakukan menjadi efektif, namun jaminan pula bahwa tindakan yang dilakukan menjadi inefektif sekaligus menyimpang ketika tidak memenuhi unsur-unsur di atas.
Action plan sesungguhnya lebih merupakan pernyataan niat ketimbang sebuah komitmen. Hal ini perlu dipahami sungguh-sungguh baik oleh pemimpin yang bersangkutan maupun mereka yang bertugas mengontrol jalannya organisasi.
Karena merupakan sebuah pernyataan niat maka jangan sampai keberadaannya justru membatasi ruang gerak di lapangan ketika ada hal-hal yang menuntut perubahan action plan.
Bahkan action plan perlu untuk direvisi sesering mungkin agar jangan sampai organisasi terjebak pada keputusan dan tindakan yang ketinggalan jaman dan hanya memboroskan sumber daya.
Bukan hanya perubahan LSE yang menjadikan action plan perlu terus direvisi namun setiap kegagalan ataupun keberhasilan yang dicapai organisasi biasanya akan membuka peluang-peluang baru. Jangan sampai pula organisasi tidak mengeksploitasi peluang tersebut karena kaku menerapkan action plan.
Perlu diperhatikan juga bahwa sebuah action plan perlu disertai sistem yang memungkinkan adanya cross checking antara hasil yang dicapai dengan hasil yang diharapkan.
Terakhir perlu ditekankan bahwa action plan sekaligus menjadi dasar bagi seorang pemimpin dalam menyusun alokasi waktu. Semua pemimpin tahu bahwa waktu adalah sumber daya yang paling berharga sekaligus langka bagi seorang pemimpin.
Sebuah action plan akan menjadi sia-sia manakala seorang pemimpin tak menjadikannya sebagai dasar dalam menyusun alokasi waktu.
Napoleon menyebutkan bahwa tidak ada satu kemenangan yang pernah diraihnya sesuai dengan action plan. Meski demikian Napoleon tetap melakukan perencanaan dalam setiap perang yang bahkan lebih mendetil ketimbang jenderal-jenderal lain pada masanya.
I’m a marketing strategist specialising in consumer behaviour, brand strategy, and digital trust. I provide insight-driven strategic guidance for organisations seeking to understand consumers more deeply, with a focus on midlife audiences and behavioural psychology. My work blends reflective analysis, cultural perspective, and practical frameworks to help brands build clarity, relevance, and long-term trust in a rapidly evolving market.
| My core archetypes: Commander (Best Match), Shaper (Good Match) and Planner (Good Match) |
I believe recognition and status matter far less than being truly competent and effective.
I stand for those whose worth is written in honesty, not in headlines.. ~ Satrio ~
Read more of my posts: Medium| Indonesiana | Kompasiana

Comments are closed.