Kesan pertama begitu menggoda?… ah tidak juga… (Bag. 1 dari 4)

Ruang rapat terisi penuh, meja berbentuk oval itu dikelilingi oleh para peserta rapat. Agenda demi agenda dibahas, dan aku melihat silih berganti para peserta rapat mengacungkan jari untuk mengutarakan pendapat atau pemikirannya. Rapat kali ini diadakan tepat tengah hari, mungkin karena matahari tepat diatas kepala atau memang aku sedang tidak konsentrasi, pikiranku sesungguhnya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.

Aku membuka-buka buku agenda yang kubawa, didalamnya terselip sebuah foto beberapa tahun yang lalu. Foto seorang mahasiswa dengan senyumnya yang cool peace . Aku ikut tersenyum bersama foto itu. Aku jadi teringat lebih dari sepuluh tahun yang lalu ketika aku pertama kali bertemu dengan sosok mahasiswa itu.

Indirani Wauran-Wicaksono

saat aku menjadi peserta Faculty Day 2000...

Kala itu aku baru saja masuk menjadi mahasiswa baru, acara orientasi mahasiswa baru di tingkat universitas baru saja selesai (waktu itu acara orientasi diadakan dua kali, di tingkat universitas baru kemudian dilanjutkan di tingkat fakultas). Siang itu di pertengahan tahun 2000 aku datang ke kampus baruku untuk acara technical meeting orientasi mahasiswa baru di tingkat fakultas yang akrab disebut faculty days.

Masih kuingat persis, aku masuk ke ruang F 114 yang sudah terisi lumayan penuh dan amat gaduh. Aku mencari-cari teman yang sudah kukenal sebelumnya, kemudian aku duduk. Ini adalah kali pertama kami teman-teman seangkatan dikumpulkan dalam satu ruangan. Aku memandang berkeliling untuk melihat wajah-wajah teman-teman seangkatanku. Aku segera berkenalan dengan teman-teman yang duduk disekitarku. Kemudian aku memandang ke seberangan ruangan, ada sekumpulan mahasiswa cowok yang sangat gaduh, cenderung urakan atau cari perhatian bahkan menurutku setengah ‘preman’ swt . Aku tersenyum dalam hati, inilah profil teman-teman seangkatanku…

Setelah beberapa waktu kami dibiarkan dalam kegaduhan, acara pun dimulai. Ada dua orang kakak angkatanku cowok dan cewek maju ke depan, rupanya merekalah yang siang ini bertugas sebagai MC. Dalam ingatanku, keduanya sama-sama tidak tegas, cenderung bicara dengan nada ragu-ragu dan bahasa tubuh yang tidak meyakinkan. Kegaduhan tetap terjadi dalam ruangan dan mereka tidak mampu mengatasinya. Kesan pertama di fakultasku yang tidak mengesankan.

Setelah situasi terkesan ‘chaos’ beberapa saat, tiba-tiba seseorang yang semula berada di belakang kelas maju ke depan, meminta mic dari MC, kemudian menyapa dengan nada tegas dan volume yang keras. Setelah itu ia menarik kursi dan duduk, kaki kanan dipangku bersilang di atas kaki kiri, dan bicara dengan ekspresi yang dingin. Aku dan seisi ruangan memandang orang itu, ia mengenakan celana jeans biru, kaos putih dengan logo “OP” kecil di bagian dada, dan sepatu casual berwarna coklat. Sebuah kalung tali berwarna hitam dengan bandul berbentuk sebuah huruf kanji ia kenakan. Entah apa yang dipikirkan teman-temanku, bagiku secara keseluruhan gayanya memancarkan orang yang yakin dengan dirinya, tapi juga ada pancaran arogan, cool, dan sepertinya susah didekati atau tidak terbuka dengan orang lain cerutu . Namun demikian, aku terkesan karena ia mampu membuat ruangan yang tadinya amat gaduh menjadi tenang terkendali.

Ternyata orang itu adalah ketua panitia dalam acara faculty day 2000 yang akan kuikuti. Dalam pembagian pendamping ia menjadi pendamping kelompokku, walaupun ia seringkali tidak mendampingi karena harus mengurus hal-hal lain. Dalam interaksi yang singkat saat ia menjadi pendamping kelompokku, aku menemukan kesan pertama yang kutangkap dari mahasiswa itu benar adanya. Jadi jika sebuah tag line iklan berkata kesan pertama begitu menggoda?..ah..tidak juga…   senyum (bersambung ke bag. 2…) [Indirani Wauran-Wicaksono]

 

  Copyright protected by Digiprove © 2011