Kesan kedua?… hmmm…mungkin sedikit… (Bag. 2)

(Sambungan dari“Kesan pertama begitu menggoda?”)

Kesan KeduaBenar dugaanku sebelumnya, mahasiswa yang menjadi pendamping kelompokku itu memang orang yang yakin dengan dirinya, agak sedikit arogan, dan kelihatan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Selain itu dia juga tidak banyak bicara. Aku masih ingat persis, salah satu kegiatan dalam faculty day waktu itu adalah perkenalan lingkungan kampus.

Dalam acara itu kami mahasiswa baru diajak berjalan-jalan keliling kampus untuk mengenal lingkungan dimana kami akan bermahasiswa. Seharusnya pendamping kelompok bertindak seperti tour guide, tapi pendamping kelompokku lebih banyak diam dan hanya berbicara panjang jika ditanya saja. Aku menjadi sedikit tidak suka dengan sikapnya itu. Sebenarnya untukku lingkungan kampus tidak terlalu asing karena kedua orang tua-ku adalah alumni di kampus yang sama dan ketika aku masih kecil, mereka sering mengajakku berjalan-jelan ke kampus ini untuk sekedar ke perpustakaan atau menjumpai rekan-rekan mereka. Tapi aku melihat dalam kelompokku banyak yang bahkan baru menginjakkan kaki di Salatiga saat berkuliah. Aku pikir, seharusnya pendamping kelompokku lebih banyak menjelaskan entahlah . Akhirnya melihat situasi itu aku beberapa kali mengajukan pertanyaan hanya agar pendampingku menjelaskan untuk teman-teman kelompokku. Lagi-lagi kesan yang tidak menggoda, kali ini terutama terkait dengan pendamping kelompokku itu.

Akhirnya acara faculty day berakhir. Aku pun menjalani kegiatan perkuliahan dengan semangat karena aku selalu suka hal-hal baru dan juga pengalaman baru. Aku hanya sekali-sekali saja melihat mahasiswa mantan pendamping kelompokku itu.

Namun suatu ketika, jalan kami kembali bersimpangan. Waktu itu, senat mahasiswa mengadakan kegiatan reorientasi calon fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Acara itu mengundang wakil dari setiap angkatan, kebetulan ketua angkatanku tidak dapat hadir, dan ia memintaku untuk mewakili datang di acara itu. Akhirnya aku pun datang di acara itu.

Setelah kuliah pagi, aku langsung menuju ke acara itu. Aku berangkat sendirian, dan sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar kukenal dalam acara itu. Setidaknya aku sudah tahu beberapa wajah dan nama fungsionaris lembaga kemahasiswaan saat mereka melakukan perkenalan diri pada acara orientasi mahasiswa yang lalu.

Aku memasuki ruangan reorientasi dan melihat berkeliling dengan sedikit gugup. Ruangan itu diatur seperti ruang kelas, tempat duduk ditata berpasang-pasangan, dan nampaknya semua sudah berpasangan. Hanya bangku yang agak depan yang masih kosong, akihirnya dengan gaya sok cuek aku maju dan duduk disitu. Aku diam saja sambil mengamati sekelilingku berusaha untuk secepatnya menyesuaikan diri. Tidak berapa lama, tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang masuk kemudian duduk disebelahku. Ternyata tanpa kusadari, disebelah kursi yang kupilih sudah ada yang menaruh buku dan tas. Dan mahasiswa yang menjadi teman sebelahku adalah orang yang sama yang dulu menjadi pendamping kelompokku.

Aku sedikit terkejut karena ternyata aku duduk bersebelahan dengan orang menurutku agak terkesan arogan itu. Tapi aku senang juga, setidaknya dalam acara yang asing ini aku tidak duduk sendirian. Ini adalah kesempatan dimana aku pertama kali sedikit bercakap-cakap dengannya. Aku melihat bahwa ia adalah orang yang cukup tenang, tegas, tapi memang tidak banyak bicara, sepertinya ia termasuk orang yang tertutup. Setidaknya kesan arogan yang dulu kulihat perlahan mulai hilang.

Meski awalnya aku agak ragu mengikuti acara itu, akhirnya aku menikmati juga. Itu adalah pertama kali aku mendapatkan pelajaran mengenai berorganisasi di fakultasku. Sisi menyenangkan yang lain, pada saat itu aku jadi banyak mendengar gosip-gosip di kalangan mahasiswa terutama yang cewek mengenai dosen-dosenku (yang sekarang menjadi rekan kerjaku). Aku masih ingat rasa penasaran yang mereka tularkan ke aku mengenai ke-seksi-an bentuk pantat salah seorang dosen pria yang akan menjadi nara sumber. Pada saat dosen itu masuk, kakak angkatan di belakangku berbisik padaku agar aku memperhatikan pantat dosenku itu. Pengalaman reorientasi yang lengkap, dari yang serius sampai yang iseng kurasakan disana.

Akhirnya bagiku kegiatan berakhir, selanjutnya kegiatan hanya ditujukan bagi fungsionaris lembaga kemahasiswaan saja. Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku bermahasiswa. Dalam kegiatan perkuliahan, jalanku tidak lagi bersinggungan dengan mantan pendampingku itu. Bahkan aku tidak ingat apakah kami kadangkala bersimpangan jalan atau tidak. Aku pikir, jika misalnya kami bertemu lagi setidaknya aku sudah menganggapnya lebih ‘manusiawi’. Mungkin saja kesan kedua ini sedikiiiiit berkesan… melet bersambung ke bag. 3 (Indirani).