Kesan yang tertinggal akhirnya menjadi … (Bag. 4 ~ Habis)

(Sambungan dari “Perjumpaan yang tanpa sengaja meninggalkan kesan…“)
Hubungan profesional di Senat Mahasiswa membuatku semakin mengenal sosok mahasiswa yang terkesan tertutup dan pendiam. Pengenalanku bertambah ketika suatu saat aku dan seorang temanku menemukan penyimpangan keuangan di kepanitiaan yang kami ikuti. Penemuan itu membuatku terkejut dan merasa dikhianati, sebab dilakukan oleh kakak angkatan yang nampaknya baik kepada semua adik angkatannya. Karena kejadian itu aku banyak berkonsultasi dengan Ketum dan Sekum SEMA mengenai langkah-langkah tindakan yang harus diambil untuk mengungkap masalah ini. Kupikir kedua orang itu adalah orang yang tepat untuk kupercaya.

Terkadang aku berdiskusi berdua saja dengan Sekum SEMA, mahasiswa yang dahulu kupikir arogan, pendiam, dan tidak peduli itu. Percakapan kami yang formal lama kelamaan menjadi lebih santai. Bahan obrolan kami pun menjadi semakin beragam. Agak lama setelah itu, kupikir waktu itu aku sudah mulai terkesan dengan kepribadiannya. Sudah mulai ada perasaan ingin mengenal dia lebih dekat.

Nampaknya kami berdua saling ‘nyambung’ bahkan setelah itu kami bertemu seusai kuliah di Plaza F tanpa sebelumnya ada kesepakatan yang jelas. Kami tidak lagi hanya berbincang tapi juga bercanda, waktu terasa sangat cepat berlalu. Beberapa kali bahkan aku bolos kuliah karena lebih suka berduaan bersamanya. Dia tidak lagi menjadi orang yang pendiam, kurasakan ia mulai membuka diri menceritakan mengenai dirinya, visi, cita-cita dan hal-hal yang menurut dia penting. Setiap kali bersamanya aku merasa senang dan tenang.

Herannya waktu itu sama sekali tidak ada kekhawatiran di diriku mengenai apakah ia menyukaiku atau tidak. Bahkan waktu itu aku juga belum menyadari bahwa aku mungkin telah mulai suka padanya. Aku menikmati saja setiap waktu yang kami habiskan bersama dan membiarkan semuanya berjalan secara alami.

photo credit: e.domaindlx.com

Di tengah kedekatan kami, ada seorang teman seangkatan yang cukup dekat denganku menunjukkan ‘tanda-tanda’ dengan sangat jelas bahwa ia melakukan pendekatan kepadaku. Aku khawatir ia ‘nembak’ (mengajak berpacaran). Waktu itu aku bertanya padanya secara tersamar sikap seperti apa yang sebaiknya kuambil. Aku masih ingat ia mengatakan bahwa bagi seorang laki-laki, menyatakan suka atau menanyakan maukah seorang cewek menjadi pacar seringkali membutuhkan keberanian. Sebagai cewek, sebaiknya aku mengatakan dengan jelas aku menerima atau menolak, dan jika aku menolak, aku harus tetap bersikap baik, serta tidak membeberkan penolakanku kepada orang lain karena mungkin itu akan menyakitinya. Penjelasannya adalah sesuatu yang baru bagiku karena sebelumnya, jika ada yang menunjukkan suka padaku dan aku tidak suka, aku menjadi sangat ketus pada orang itu dan menjauhinya.

Kekhawatiranku terjadi, tidak berapa lama temanku itu ‘nembak’ aku, dan tentu saja aku menolaknya. Penolakanku karena aku memang tidak ada perasaan apapun lebih dari teman kepadanya. Aku minta maaf karena mengecewakannya dan berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada orang lain. Tapi tentu saja aku bercerita pada kakak angkatanku itu yang kemudian menjadi teman bicara yang tepat bagiku.

Aku menyadari lama-kelamaan aku mulai merasa membutuhkannya untuk berbicara, bercanda, dan berbagi cerita dengannya. Kupikir aku tidak sendiri ia pun demikian. Ada beberapa potongan peristiwa yang menunjukkan ia mulai kehilangan aku ketika aku tidak terlihat.

Tahun berikutnya ia tak lagi menjadi Fungsionaris Senat Mahasiswa karena sudah mulai memfokuskan pada  skripsinya. Waktu itu giliran aku menjadi Fungsionaris Senat Mahasiswa dan ada kegiatan reorientasi bersama selama lima hari. Tentu saja kami tidak bertemu dan tidak saling berkomunikasi. Belakangan ia mengatakan bahwa saat itu ia merasa kehilangan aku  malu . Katanya saat ia berbaring di kamar mendengarkan musik, wajahku selalu terlintas dalam bayangannya dan ia menantikan kapan aku kembali ke kampus.

Peristiwa lain yang jelas kuingat adalah, kami bertemu di kampus seusai kuliah. Hari itu aku mengenakan celana abu-abu dan kemeja putih, aku terkejut ketika ia memujiku dan mengatakan bahwa hari itu aku kelihatan cantik (mungkin karena hari itu penampilanku beda, pakaian andalanku semasa kuliah adalah celana jeans besar dan kaos/kemeja gombrong, sangat tidak menarik  melet . Makanya sedikit-sedikit di awal pacaran dia mulai memberiku saran untuk mengubah penampilan. Dan sekarang bagiku dia adalah kritikus no.1 terutama soal penampilan, cara berbicara dan body language).

Di hari lain yang berdekatan, kami bertemu di hari aku akan mengikuti rapat kerja yang dimulai pada sore hari. Ketika berjalan bersama, ia tiba-tiba memintaku meneleponnya jika tengah malam situasinya tidak membuatku nyaman untuk menginap. Ia bejanji akan menjemput dan mengantarku pulang. (Pada saat itu kondisi ‘politik’ di LKFH memang agak ‘panas’)

Sesungguhnya semakin lama bersamanya kepribadiannya semakin terlihat dan membuatku merasa semakin nyaman bersamanya. Bahkan lama-kelamaan tidak ada lagi sikapnya yang menjaga jarak terhadapku. Aku ingat ketika kami bercakap-cakap berdua di salah satu tempat duduk di sudut kampus, ia tiba-tiba memegang rambutku dan memainkannya. Aku terkejut tapi aku membiarkannya saja.

Aku senang bersamanya dan menikmati setiap hari yang berlalu. Sampai suatu ketika, ketika kami duduk bersama di samping Gedung D, ia menyatakan kalau ia suka padaku dan selanjutnya mengajakku untuk masuk dalam hubungan pacaran. Waktu itu aku setuju dengan memberikan beberapa persyaratan. Ia menyetujui semua persyaratan yang kuberikan.

Namun segera saja aku menemukan diriku sediri tidak bisa bertahan lama dengan semua persyaratan yang kuberikan. Misalnya, semula aku tidak mau ditunggu jika aku kuliah namun segera saja aku meminta dia menungguku jika ia sudah selesai kuliah. Atau aku tidak mau diantar jemput kalau aku pergi-pergi, tapi segera saja aku senang jika ia mengantar dan menjemputku ketika aku memberikan les privat (dulu untuk mendapat uang saku, aku memberi les privat kepada seorang anak SD).

Kupikir aku yang sebenarnya dengan kemanjaanku muncul ketika aku bersamanya. Aku bersyukur karena ia tidak keberatan dengan hal itu. Sifat ini adalah hal yang tidak aku tunjukkan pada orang lain, bahkan banyak orang yang mengira aku sama sekali tidak punya sifat manja.


Aku bersyukur untuk saat-saat aku pertama kali mengenalnya, aku senang masih bisa mengingatnya dengan baik. Tanpa terasa lebih dari sepuluh tahun telah berlalu sejak waktu itu. Kami berdua masih tertawa jika mengenang hal-hal itu. Dan meski lebih dari satu dekade telah berlalu, namun perasaan yang dulu ada bukan pudar atau berubah bentuk, akan tetapi menjadi semakin kuat. Sampai sekarang aku masih merasakan debaran-debaran yang dulu kurasakan ketika pertama kali kusadari aku jatuh cinta padanya. Bahkan hingga hari ini wajahku masih memerah dan tersipu setiap kali ia memandangku dengan penuh cinta. Aku bersyukur orang itu adalah orang yang menjadi suamiku.  senyum (Indirani).