Kombinasikan CSR dengan Kompetensi Inti

Beberapa tahun lalu ketika mulai hangat dibahas dan dibicarakan mengenai CSR (Corporate Social Responsibility), dalam tulisan di blog ini saya pernah menyebut bahwa CSR yang tepat adalah kombinasi antara kompetensi inti (core competence) sebuah perusahaan /organisasi dengan kegiatan CSR itu sendiri.

CSRSayangnya hingga saat ini mayoritas perusahaan (di Indonesia) masih memaknai CSR sebagai program amal biasa, mungkin memberi manfaat tapi tampak konyol karena tak ada sangkut pautnya dengan bidang usaha mereka.

Sebuah perusahaan rokok misalnya, mengklaim program beasiswa dan sumbangan dana untuk pembangunan gedung kuliah di sebuah universitas sebagai bentuk CSR. Padahal sama sekali tak ada kaitan dengan kompetensi inti dan bidang usahanya.

Mengkombinasikan antara program CSR dengan bidang usaha sebuah perusahaan/organisasi sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, sebaliknya seringkali tindakan-tindakan lebih sederhana bisa dilakukan untuk tujuan ini. Sekali lagi yang perlu diingat bahwa CSR tidak sama dengan program amal pada umumnya.

Dalam melakukan kombinasi kedua unsur (CSR dan bisnis) yang tampaknya berbeda ini pertama-tama yang perlu ditanamkan adalah pola pikir “membangun jembatan” antara keduanya. Beberapa perusahaan setidaknya sudah belajar dan mempraktikkan bagaimana mengaplikasikan kompetensi inti bisnis mereka dalam program CSR.

Salah satu contoh sederhana sekaligus efektif adalah kampanye CSR yang dilakukan oleh perusahaan minuman keras asal Kanada: Molson Coors. Program CSR perusahaan ini adalah mengkampanyekan praktik konsumsi minuman keras yang bertanggung jawab.

Programnya sendiri berkesan sedehana, namun Molson Coors secara efektif melakukan kampanye dengan menggunakan media-media yang tepat termasuk media jejaring sosial untuk menyasar kelompok umur yang lebih muda.

Hingga sekarang perusahaan asal Kanada ini menghabiskan banyak sumber daya untuk melakukan edukasi pola konsumsi alkohol yang bertanggung jawab ketimbang menggunakan sumber daya untuk mengkampanyekan produk dan merknya sendiri (secara konvensional).

Kombinasi yang tepat antara CSR dengan kompetensi inti yang diaplikasikan oleh perusahaan tersebut merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah organisasi bisa melakukan kampanye CSR yang memberi manfaat bagi masyarakat tanpa mengingkari bidang usahanya sendiri.

Dengan demikian dua tujuan tercapai secara efektif: memberi kontribusi kepada masyarakat sekaligus mempromosikan usaha. Kalau perusahaan minuman keras saja bisa mengapa bidang usaha lain tidak bisa?