Memilih Sekolah & Menyertakan Pihak Ketiga Dalam Pendidikan Anak Ternyata Tidak Sepele

Hampir setahun sudah semenjak kami memasukkan anak ke pre-school, saat itu usia J (anak kami) menginjak 2 tahun, 8 bulan. Dimulai dengan trial di beberapa tempat, berlanjut pada diskusi dan sebagainya akhirnya sampai juga kami pada keputusan memilih sebuah sekolah.

Harus diakui bahwa proses tersebut sama sekali tidak mudah, lebih-lebih kebanyakan sekolah di Indonesia berbasis agama. Padahal saya sejak awal sudah berpegang bahwa pendidikan agama bukan sesuatu yang bisa diambil alih oleh sekolah, negara atau siapapun. Orang tua-lah yang punya tanggung jawab tersebut. Tentu keberatan tersebut bisa ditolerir jika menemukan sekolah yang seiman.

Namun lagi-lagi tidak lantas sesederhana itu, meski seiman namun bukan berarti setiap konsep pendidikan sesuai dengan yang kami berdua harapkan atau setujui. Untuk pre-school misalnya saya menghindari memasukkan anak ke sekolah yang terlampau serius seperti mengajarkan baca, hitung dan tulis. Belum waktunya, bahkan sejauh ini untuk tingkatan selanjutnya pun sedapat mungkin kami tidak mencari sekolah yang terlalu menekankan pada pengembangan intelektual secara berlebihan sebagaimana umumnya sekolah-sekolah di sini.

Dari sisi pergaulan sedapat mungkin kami mencarikan lingkungan yang tingkat keberagamannya tinggi baik dari sisi ras, suku , kepercayaan (agama), tingkat pendidikan maupun ekonomi orang tua. Sebab saya dan istri sedapat mungkin ingin mengenalkan keberagaman tersebut sejak dini agar anak tidak memandangnya sebagai sesuatu yang langka atau perlu dijadikan patokan dalam hal apapun.

Kami pun menghindari sekolah yang didominasi oleh anak-anak dari keluarga dengan tingkat perekonomian tinggi, alasannya di masyarakat Asia biasanya anak dari keluarga dengan tingkat perekonomian ini cenderung dimanja dengan banyak layanan dari baby sitter, asisten rumah tangga dan sebagainya yang meski bukan hal buruk namun acapkali membentuk sikap tidak mandiri pada diri anak.

Fase Adaptasi Anak di Sekolah Baru

Singkatnya setelah melewati beberapa proses pada akhirnya kami menemukan sebuah sekolah yang paling sesuai dengan harapan kami namun yang lebih penting adalah cocok dengan karakter dan minat anak sendiri.

Tentu saja tahap ini bukan final, sebab masih ada tantangan menanti setelahnya. Tantangan paling awal adalah proses adaptasi anak dengan sekolah barunya, dan ini tidak berlangsung singkat. Lebih-lebih anak kami memiliki sisi introvert. Well, yang saya maksud adalah introvert dalam arti sebenarnya bukan pemahaman keliru bahwa introversi terkait dengan sifat pemalu atau anti sosial yang dipegang sebagian besar masyarakat selama ini.

Efek introversi tersebut bagi anak kami adalah ia tidak mudah “menerima” lingkungan baru, perlu waktu ekstra. Setelah tahap tersebut dilalui dan ia sudah menerima lingkungan baru-nya sebagai ‘lingkaran dalam’ maka tak ada lagi masalah. Tapi sekali lagi perlu waktu, dan itu yang terkadang tidak dipahami oleh kebanyakan orang.

Ketika tahap menerima lingkungan baru sebagai inner circle tersebut sudah dilalui keadaan terasa lebih mudah, seingat saya ia butuh waktu sekitar tiga pekan untuk sampai pada tahap tersebut.

Efek Melibatkan Pihak Ketiga Dalam Mendidik Anak

Tantangan kemudian mulai memasuki level berikutnya, tidak seketika memang namun pada akhirnya terjadi juga. Sebelumnya atau selama ini salah satu yang kami khawatirkan kala melibatkan pihak luar (di luar keluarga inti/ayah-ibu-anak) dalam pendidikan adalah pemberian paham keliru atau tidak sesuai dengan apa yang sudah kami konsepkan. Tentu saja hal itu sangat mungkin terjadi karena setiap orang tentu memiliki konsep idealnya sendiri-sendiri.

Tanpa mengesampingkan fakta positif bahwa ada hal-hal yang bisa anak pelajari dari lingkungan baru atau dengan melibatkan pihak lain pada saat yang bersamaan tak bisa dihindari pula efek negatifnya.

Salah satu yang paling terasa adalah sikap menghakimi yang berpotensi memiliki peran dalam membentuk konsep diri si anak. Sebagai orang tua kami sejak awal berusaha menghindari sikap, perilaku atau kata-kata yang berpotensi membentuk konsep diri anak.

Sayangnya hal terebut termasuk salah satu yang tidak bisa dihindarkan ketika melibatkan pihak ketiga dalam kehidupan dan pendidikan anak. Pendidikan yang dimaksud bukan sekedar formal namun juga informal.

Baru-baru ini sebuah kejadian yang cukup mengganggu adalah sikap menghakimi salah seorang pendidik terhadap anak kami. Anak kami cenderung mengalami separation anxiety dengan orang tuanya (kami) yang muncul kala kami sendiri yang mengantar sekolah atau setelah libur panjang. Tidak selalu, tapi beberapa kali ia menangis kala berpamitan, ia masuk ke kelas dan kami pulang.

Nah salah satu pendidik dengan gampangnya membuat pernyataan di depan si anak yang secara implisit menunjukkan bahwa tangisan itu hanya sekedar tangisan manja dalam rangka mencari perhatian. Jadi ia meminta yang lain supaya tidak memberi perhatian tentu dengan harapan tangisan tersebut berhenti. Kalau memang tangisan tersebut merupakan bentuk atau upaya mencari perhatian tentu tidak masalah, namun faktanya tidak demikian.

Memilih Sekolah Anak Preschool

Alih-alih mengatasi justru sikap tersebut menimbulkan kerancuan dan kebingungan dari sisi anak. Sangat disayangkan sikap tersebut dilakukan oleh pendidik apalagi pendidik anak usia dini yang notabene kemampuan memilih dan memilah informasi anak didiknya masih sangat terbatas.

Separation anxiety adalah hal yang lumrah, memang umumnya memuncak pada usia 18 bulan namun terkadang masih bisa muncul pada tahap-tahap usia berikutnya dalam eventsevents tertentu tersebut adalah saat diantar oleh orang tuanya atau setelah libur panjang. Justru separation anxiety lebih sering muncul pada anak yang memiliki keterikatan sehat dengan orang tuanya. Kasihan dan sangat disayangkan jika fakta umum tersebut tak dipahami oleh pendidik anak usia dini.

Although fear of separation (anxiety) peaks at about 18 months, it can resurface for occasional stretches until well beyond nursery school. The relapse is often triggered by a specific event such as starting at a new school, a change in childcare, or staying overnight at a friend’s house. Your child’s struggle to establish a separate identity naturally gives rise to such moments of trepidation. But separation anxiety has a positive side – it shows that your child has an attachment to you. (Babycentre).

Saya paham memang bahwa berbeda dengan orang tua, pendidik harus menghadapi beberapa anak sekaligus masing-masing dengan karakter dan kebutuhan berbeda. Namun tetap saja menyederhanakan masalah untuk meringankan tugasnya bukan hal bijak, lebih-lebih jika sikap tersebut berpotensi menimbulkan kebingungan dalam benak anak lebih-lebih berpotensi membentuk citra diri.
Memiliki satu resep, rumus, mantra atau apapun lah mau disebutnya yang bisa diberlakukan untuk semua anak tentu sangat meringankan tugas para pendidik tapi mustahil dan sesat! Bayangkan kalau Dokter juga melakukan pendekatan serupa, Anda mau jadi pasiennya?

Pada sisi lain juga harus dipahami bahwa meski hanya mengurus satu anak (atau beberapa anak) tugas orang tua sifatnya terus-menerus, 24 jam sehari berbarengan dengan berbagai pekerjaan, aktivitas maupun masalah lain yang harus dihadapi. Artinya masing-masing memiliki peran dan tantangan yang berbeda, dan menyederhanakan masalah untuk memudahkan pekerjaan atau tanggug jawab bukan opsi bagi orang tua maupun pendidik. Kita berbicara mengenai manusia, manusia dengan potensinya, manusia dengan masa depannya, manusia dengan nilai atau keyakinan yang mungkin akan menjadi bekal maupun beban bagi hidupnya dikemudian hari!

Bayangkan saja bahwa semenjak anak masih di dalam kandungan orang tua sudah mempelajari berbagai buku, dari berbagai sumber, berbagai penulis dengan pro dan kontranya masing-masing. Sedapat mungkin meminimalisir kesalahan yang berpotensi negatif pada masa depan anak, tiba-tiba pihak luar merusak proses yang sudah dibangun hanya karena entah enggan mendalami ilimu terkait pekerjaannya atau sekedar ingin membuat solusi sederhana tanpa memikirkan efek dalam jangka panjang.

Bahwa ada trade-off kala melibatkan pihak lain dalam mendidik anak tentu semua orang tua juga paham. Saya bukan tanpa toleransi, cukup banyak yang ditolerir seperti misalnya mendisiplinkan anak dengan time-out, banyak pro dan kontra seputar penerapan time-out pada anak dan kami termasuk yang kontra. Namun karena sekolah memilih kebijakan itu saya pun tidak protes, hanya mengimbangi anak dengan pemahaman lain kala di luar sekolah. Namun sikap ignorant jelas bukan sesuatu yang layak ditolerir.

Saya tidak anti pendidik… camkan itu! Kakek saya pendidik, ibu saya pendidik dan istri saya pendidik, jadi saya cukup yakin bahwa saya tidak anti pendidik. Tapi saya memang mudah hilang respect kepada orang yang malas meng-update ilmu pada bidang yang digeluti juga menyederhanakan atau men-generalisasi masalah.

Sejauh ini diluar kejadian tersebut tempat dimana anak kami sekolah masih saya nilai ideal dan pilihan tepat.

Tradisi Tanpa Esensi

Sekolah tentu bukan satu-satunya tempat dimana campur tangan pihak ketiga. Beberapa orang meniai saya anti tradisi, anti budaya asli. Padahal faktanya sama sekali tidak demikian. Ketika saya menyebut perilaku masyarakat kita primitif lantas disamakan dengan saya menilai budaya Indonesia primitif.

Sejatinya saya menggunakan kata primitif atau pra sejarah untuk menggambarkan sikap ignorant seperti buang sampah sembarangan, membakar sampah, urakan kala mengemudi di jalan umum dan sebagainya. Singkatnya sikap yang selama ini lebih banyak digantikan dengan kata ”ndeso” atau ”kampungan”. Saya sendiri menghindari dua kata tersebut karena terkesan mendiskreditkan mereka yang tinggal di desa atau kampung. Padahal sikap “primitif” tersebut bisa ditemukan pada mereka yang tinggal di kota besar, desa dengan berbagai latar belakang pendidikan dan perekonomian. Karenanya saya lebih nyaman menyebut “primitif” tanpa ada hubungannya dengan mem-“primitif”-kan budaya asli atau ajaran leluhur.

But, anyway… saya juga bukan orang yang sembarangan menerima ajaran tanpa berlogika dan hal yang sama saya turunkan kepada anak tentu saja. Salah satu contoh adalah pengajaran atau pemahaman bahwa tangan kanan tangan sopan dan tangan kiri sebaliknya.

Logikanya apa? Nalarnya apa? Tak ada yang bisa menjelaskan sampai saat ini. Bukan orang Indonesia saja sebenarnya yang memiliki pemahaman tersebut, masyarakat Barat yang menyebut kanan sebagai “right” dan kiri dengan sebutan “left” secara implisit juga memiliki pemahaman serupa. Namun memang di Indonesia-lah yang saya tahu demikian mensakralkan, mereka yang dominan tangan kiri misalnya meski ditolerir melakukan aktivitas dengan tangan kiri namun tidak saat berjabat tangan atau memberi/menerima sesuatu bukan? Sementara saat kami tinggal di Australia (Victoria) kebanyakan orang tidak mempermasalahkan tangan kiri/kanan.

Kami pun tidak pernah mengajarkan ke anak bahwa tangan kanan lebih sopan dibanding tangan kiri, maka ketika awal mula ia bisa merespon jabat tangan dengan orang lain dan memberi tangan kiri kemudian si orang dewasa yang mengajak berjabat tangan ini menolak anak kami pun jadi bingung. Barulah kami jelaskan:
“Kalau sama orang lain pakai tangan kanan, kalau sama Pam dan Mom (ayah-ibu) boleh pakai kanan atau kiri”.

Ketika usianya bertambah diapun makin kritis dengan bertanya:
“Kenapa kalau sama Pam dan Mom boleh tangan kiri kalau sama orang lain tidak?”

Ajaran, tradisi, atau apapun sebutannya yang tanpa esensi semacam itu tidak saya turunkan ke anak, namun saya memberi pemahaman pada saat bersamaan bahwa ada orang-orang tertentu yang menghargai ajaran-ajaran semacam itu. Dihargai saja tapi tidak perlu diikuti.

Menyortir hal-hal seperti itu menjadi tantangan lain dalam mendidik dan membesarkan anak yang pada akhirnya mau tidak mau melibatkan pula pihak ketiga.