Perlukah Melepaskan Tujuan?

Beberapa tahun yang lalu sambil mengembangkan bisnis yang sudah berjalan saya mencoba membuka sebuah toko, tepatnya agen selimut jepang. Saat itu peluang dan kondisinya tampak menjanjikan. Kualitas produk sangat baik, tingkat permintaan sangat tinggi sementara persaingan masih rendah.

Hanya dalam waktu demikian singkat toko tersebut sudah mencapai BEP, bahkan mendapat untung yang menjanjikan karena permintaan bukan hanya dari dalam pulau melainkan luar pulau. Waktu itu rasanya sangat masuk akal untuk melakukan ekspansi usaha dan membuka cabang di tempat lain dalam beberapa tahun kedepan.

Namun keadaan berubah, jumlah agen terus bertambah bahkan dalam satu kota setidaknya ada tiga agen. Belum lagi ketersediaan produk justru menurun karena masalah internal pada pabrik yang bersangkutan. Satu-satunya pilihan masuk akal kala itu adalah melakukan strategi bertahan dengan mencari produk alternatif.

Giving UpKenyataannya tidak semudah itu untuk bertahan dan mencari produk pengganti yang memiliki kinerha setara. Pelanggan sudah tersegmentasi, branding sudah terlanjur melekat; sebuah kondisi yang baik manakala pasokan produk terjamin namun sebuah bumerang ketika harus mengganti produk.

Pada satu sisi sumber daya terus dikeluarkan baik modal maupun tenaga, sementara di lain sisi hasil yang diperoleh bahkan tidak sebanding dengan tingkat pengeluaran. Sebuah kondisi yang sangat-sangat tidak produktif dan tidak sehat bagi sebuah usaha maupun pencapaian pribadi.

Menentukan dan memiliki tujuan memang adalah penting, namun yang tidak boleh dilupakan adalah melakukan evaluasi terhadap tujuan-tujuan tersebut. Lance Amstrong dalam sebuah bukunya pernah menyebut bahwa rasa sakit dan penderitaan hanyalah keadaan sementara, namun menyerah adalah keadaan permanen. Benarkah demikian?

Belajar dari pengalaman pribadi saya pikir ada beberapa kondisi yang menjadikan menyerah justru lebih produktif ketimbang mempertahankan tujuan:

Ketika tujuan memiliki konsekuensi merugikan. Dalam kasus yang saya alami memaksakan tujuan hanya akan membawa konsekuensi yang semakin merugikan. Mungkin benar bahwa jika diteruskan pada akhirnya akan ketemu produk yang mampu menggantikan selimut jepang atau bahkan mungkin lebih baik.

Namun upaya-upaya itu memerlukan sumber daya yang tidak sedikit baik modal, tenaga dan juga waktu. Sementara ada usaha lain yang sudah berjalan dan sedang bertumbuh, upaya mempertahankan toko membawa konsekuensi berkurangnya fokus pada bisnis yang lain sekaligus memaksa bisnis tersebut untuk mensubidi toko selama belum bisa “mandiri”.
Pada tahap ini saya menyadari bahwa mempertahankan keberlangsunan toko hanya akan membawa kondisi tidak produktif dan konsekuensi yang merugikan.

Ketika tujuan yang satu menjadi penghambat bagi tujuan yang lain. Keseimbangan dalam hidup haruslah menjadi sebuah tujuan yang setara dengan tujuan-tujuan lain. Ketika sebuah tujuan menguras sedemikian banyak energi dan memaksa seseorang untuk mengorbankan keseimbangan hidup maka sudah waktunya tujuan tersebut dievaluasi.

Kegagalan menjaga keseimbangan hidup pada akhirnya hanya akan membawa kekosongan dan kesia-siaan meski setelah tujuan yang lain tercapai.

Ketika tujuan sudah tidak lagi relevan. Tujuan dan target tidak selamanya relevan, setiap orang terus bertumbuh seiring dengan kemampuannya belajar dari pengalaman dan kedewasaannya dalam memaknai setiap kejadian.

Sebelum lulus dari Magister Manajemen saya selalu berkeinginan dan menetapkan target untuk menjadi Manajer Pemasaran. Sambil menanti datangnya kesempatan saya berkarir di bidang lain hingga pada akhirnya memutuskan berwirausaha. Sekitar dua tahun menekuni bisnis datanglah tawaran dari sebuah perusahaan multinasional untuk posisi Manajer.
Setelah merenungkan dan memikirkan beberapa saat saya sadar bahwa tujuan saya sudah berubah, saya bukan lagi orang yang sama sebagaimana saya beberapa tahun yang lalu. Pekerjaan itu sudah tidak lagi menarik bagi saya, selain itu saya sudah memberikan komitmen dan totalitas pada usaha yang sedang saya jalani.

“Winners never quit, and quitters never win” itu mungkin tepat bagi olahragawan, tapi dalam bisnis dan dalam hidup ada situasi-situasi dimana menyerah adalah pilihan yang lebih produktif dan bijaksana.