Facebook Timeline dan Google Privacy: Tantangan Bagi Marketer

Belum lama ini Facebook memperkenalkan interface baru yang disebutnya sebagai “Facebook Timeline” dan dalam waktu dekat semua pengguna akan “dipaksa’ beralih menggunakan interface baru ini. Perubahan ini adalah yang kesekian kalinya dilakukan oleh Facebook.

Sebelumnya Facebook juga memperkenalkan “Pages” atau “Fan Pages” untuk menggantikan fungsi “Groups” dan “Profile” yang sering digunakan oleh korporat.

FacebookGoogle di sisi lain terang-terangan melarang penggunaan Google+ untuk aktivitas bisnis, setidaknya sampai Google+ menyediakan fitur khusus yang kabarnya sedang dipersiapkan. Bukan hanya itu, baru-baru ini Google juga melakukan update alogaritma dan “privacy policy”

Bagi pengguna biasa mungkin perubahan yang dilakukan oleh Facebook dan Google tak banyak berarti selain butuh pembiasaan. Tidak demikian halnya bagi kalangan korporat dan internet marketer. Perubahan-perubahan yang dilakukan Facebook, Google dan media lainnya secara cepat dan terus menerus ini membawa dampak yang cukup signifikan.

Dibalik Perubahan Facebook dan Google

Facebook dan Google bukan semata-mata situs sosial media atau search engine, keduanya adalah channel pemasaran sebagaimana channel pemasaran lain. Karenanya masing-masing tentu memiliki kepentingan dan tujuan pribadi.

Karenanya jika diamati perubahan yang terasa terus menerus dan begitu cepat ini bukan perubahan asal-asalan atau coba-coba. Baik Google Maupun Facebook masing-masing tetap berpegang pada tujuan atau filosofinya.

Facebook mempertahankan core-nya untuk menjaga privasi sekaligus memberikan kemudahan bagi user. Sementara Google dengan perubahan-perubahan privacy policy-nya juga tak jauh berbeda: melindungi kepentingan user.

Mengapa user begitu penting bagi keduanya? Bukankah user Facebook maupun Google menggunakan fasilitas secara gratis?

Ya user memang memanfaatkan semuanya secara gratis namun demikian baik Facebook maupun Google memiliki kepentingan besar terhadap mereka. Jangan lupa bahwa kesuksesan program iklan di Facebook maupun Google (AdWords) bergantung pada user. Dan faktanya sampai saat ini Facebook Ad dan Google AdWords menyumbang pemasukan yang sangat besar bagi kedua perusahaan ini.

Google bahkan memberikan banyak aturan ketat bagi pemasang iklan maupun publisher iklan (pemilik blog) yang tujuannya sekali lagi adalah melindungi “asset”-nya.

Bagaimana Marketer Menyikapi Perubahan Facebook dan Google?

Perubahan kebijakan Google dan Facebook harus diterima apapun dampaknya, toh nyatanya keduanya merupakan saluran pemasaran yang powerful dan profitable di internet hingga saat ini.

Dan perubahan itu tidak akan pernah berhenti, keduanya memiliki tim riset yang akan terus menerus memberikan masukan mengenai perubahan-perubahan yang dianggap perlu dikemudian hari.

Sebagai marketer, baik mewakili korporat maupun pribadi yang penting untuk dilakukan adalah memiliki strategi yang fleksibel dan dinamis sebagaimana perubahan yang dilakukan oleh Facebook, Google dan sebagainya.

Kecepatan perubahan yang dilakukan oleh media-media dunia maya ini hendaknya juga diikuti dengan kecepatan perubahan strategi pemasaran. Jangan menggunakan metode yang sama secara terus menerus, sekalipun metode tersebut pernah sukses dimasa lalu.

Selain itu mengenali karakter konsumen juga menjadi faktor penting dalam internet marketing. Pengguna Facebook, pengguna Twitter, LinkedIn dan Google+ tidak sama satu sama lain, meski tentu ada beberapa persamaan-persamaannya. Kenali perilaku target market Anda, media yang digunakannya dan pakailah informasi tersebut untuk menyusun strategi pemasaran Anda di internet.

Zynga adalah contoh perusahaan yang sukses memanfaatkan channel internet marketing. Perusahaan pembuat game berbasis social media ini secara cerdas mengenali karakter pengguna Facebook yang senang berbagi. Karenanya game buatan Zynga kental dengan atmosfer berbagi.

Upaya menyelaraskan strategi pemasaran dengan budaya “sharing” para pengguna Facebook telah menjadikan Zynga menjadi salah satu perusahaan yang disegani saat ini. Bukan hanya itu, bahkan Zynga berhasil “memanfaatkan” para gamers Zynga untuk menjadi corong pemasaran bagi produk-produknya.

Hal paling penting adalah bahwa media manapun yang Anda gunakan jangan sekedar membagikan tautan, iklan atau penawaran sebagaimana menjadi kesalahan banyak marketer selama ini. Media-media tersebut harus digunakan untuk menjalin komunikasi yang intens dan mendalam dengan para pelanggan. Dari situ banyak informasi dan ide-ide yang bisa digali demi pengembangan produk maupun peningkatan kualitas layanan.