Refleksi: Prasangka Kita Terhadap Orang Lain (Seringkali) Merupakan Cerminan Penilaian Kita Terhadap Diri Sendiri

Ya tanpa kita sadari entah seberapa sering frekuensinya kita terbiasa untuk menilai orang lain, terlepas apakah penilaian itu terucapkan atau tidak tentunya kembali kepada karakter masing-masing. Bisa jadi penilaian tersebut tepat namun bisa pula salah.

Hal yang mungkin sedikit kita sadari adalah penilaian kita terhadap orang acapkali sebenarnya merupakan cerminan dari penilaian kita terhadap diri sendiri.

Ketika kita melihat orang membantu sesama mungkin kita berkata dalam hati: “ah cari muka..!” Tentu penilaian ini muncul jika kita senang menolong dengan tujuan mencari muka. Sebaliknya jika kita terbiasa tulus meberikan bantuan maka kita cenderung tidak berpikir demikian. Jadi ketika kita melihat orang membantu sesama kemudian dalam hati kita berkata: “ah cari muka!” itu sama artinya dengan: “Kalau saya menolong orang lain tujuan saya adalah cari muka”

Ketika kita melihat orang memiliki rumah mewah, usaha beromzet besar dan mobil mewah mungkin kita berkata dalam hati: “ah paling hasil korupsi atau menyuap supaya dapat tender…” Itu sama artinya dengan: “Saya tidak mungkin memiliki semua itu tanpa berbuat curang”

Ketika kita melihat orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa kemudian kita berkata dalam hati: “pasti sedang menyebar gosip…” Artinya: “Kalau saya ngobrol sambil tertawa-tawa itu saya sedang menyebar gosip”

Ketika seseorang yang telah kita kenal berkata: “Saya ingin berteman dengan Anda, semoga kita bisa lebih akrab” kemudian kita menimpali dengan ketus : “Saya juga bukan orang yang sulit diajak berteman kok nyatanya si A bisa berteman dengan saya” Artinya: “Saya ini orangnya sulit diajak berteman, kalau mau berteman coba lihat si A yang selalu mengalah, begitulah seharusnya kalau mau berteman dengan saya”

Sebaliknya jika diri kita sendiri cenderung pandangan dan sikap positif terhadap diri sendiri maka kita juga memiliki kecenderungan yang sama dalam menilai tindakan orang lain.

Segalanya berawal dari hati, jika hati kita bersih maka prasangka kita cenderung positif, kata-kata dan tindakan juga demikian, namun sebaliknya jika kita telah terbiasa “mencemarkan” hati maka prasangka. kata-kata dan tindakan kita terhadap orang lain juga cenderung negatif. Benar atau tidaknya silakan bertanya pada diri masing-masing, toh ini adalah sebuah refleksi pribadi. Namun tak ada salahnya jika lain kali kita hendak menilai orang lain bersikap jujur terlebih dahulu kepada diri sendiri. Apakah penilaian ini merupakan cerminan pandangan saya terhadap diri sendiri? Sudahkah saya bercermin?

Sebaliknya jika suatu ketika orang berprasangka buruk kepada kita, jangan tergesa-gesa bersedia menjadi “korban”. Sebab bisa jadi orang tersebut sedang “merefleksikan” dirinya sendiri melalui prasangkanya terhadap kita. (Satrio)