Kegagalan Terstruktur dan Terencana

Belum lama ini saya dan istri terlibat sebuah pembicaraan sambil ngopi disore hari. Sebenarnya aktivitas tersebut sudah rutin kami lakukan bersama, hanya saja kali ini topiknya saya rasa penting untuk dibagikan sambil berharap membuka sudut pandang baru bagi yang bersedia membuka mata untuk membaca dan membuka hati untuk merenungkannya.

Pembicaraan diawali dari cerita istri yang adalah seorang dosen dan kebetulan bersama beberapa rekannya sedang membimbing sekelompok mahasiswa untuk sebuah kompetisi internasional.

Istri saya bercerita bagaimana seorang rekannya berharap ada proses regenerasi berkelanjutan. Mengingat kompetisi ini levelnya internasional maka tentu saja diharapkan para mahasiswa dari generasi ke generasi akan mampu setidaknya setara dengan kompetitor dari universitas lain dari berbagai negara.

Kelompok kecil yang tengah dipersiapkan ini adalah kelompok yang sudah dipilih dan diseleksi cukup ketat. Jadi mestinya wajar mengharapkan mereka cukup kompetitif dalam ajang tersebut.

Mendengar ungkapan rekan kerja istri tersebut saya tersenyum sinis, bukan sinis dengan kata-katanya hanya saja hati ini rasanya miris dan setengah tak percaya kondisi ini bisa terwujud.

Menang? Mungkin. Diperhitungkan? Mungkin. Berkelanjutan? Are you kidding?

Kenapa demikian? Mari kita renungkan bersama kejadian ini:

Dalam sebuah Fakultas terdapat kurang lebih 1.000 mahasiswa, ketika dibuka pendaftaran hanya sekitar 50 mahasiswa yang mendaftar dan setelah dilakukan seleksi akhirnya terpilihlah 6 orang dari 50 mahasiswa yang mendaftar.

Enam orang itulah yang kemudian dipersiapkan untuk kompetisi internasional.

Well… Sampai disini rasanya tidak ada yang aneh bukan?

Mewajarkan yang Tidak Wajar

OK, kita coba kaitkan dengan ‘budaya’ yang tercipta dalam masyarakat kita:

Children's DreamDalam masyarakat kita yang menganut pola mendidik abad 19 menciptakan orang tua dan pendidik yang tidak membiarkan seorang anak untuk ‘menemukan jalannya sendiri’ namun ‘menjalani jalan yang telah ditentukan’. Renungkan perbedaan kedua kalimat yang bertanda kutip tersebut.

Orang tua dan keluarga yang adalah tempat dimana seorang anak pertama-tama mempelajari pengalaman hidup termasuk pola pikir sudah mengajarkan bahwa pendidikan tinggi (universitas) adalah sebuah keharusan bagi mereka yang secara ekonomi mampu mencapainya.

Jadi tolok ukurnya hanya ‘secara ekonomi mampu’. Tak heran jika seorang anak kemudian berpikir bahwa sama halnya dengan TK, SD, SMP dan SMA, melanjutkan ke perguruan tinggi adalah ‘hal wajar’ yang memang semestinya ditempuh selama ada biayanya.

Jadi ketika seorang anak tidak berminat melanjutkan ke pendidikan tinggi karena merasa bukan itu jalannya padahal orang tua mampu membiayai, maka orang tua, keluarga dan masyarakat akan memberi dia label ‘susah diatur’.

Tidak cukup sampai disini, bahkan bagi mereka yang pada akhirnya memilih masuk ke perguruan tinggi baik karena pilihan sendiri maupun ‘kewajaran’ masih harus menghadapi ‘cobaan’ lain yaitu ‘mendapatkan persetujuan’ atas fakultas atau bidang ilmu yang hendak dipilihnya.

Memang orang tua dan keluarga biasanya secara latah akan berkata: “terserah anak” namun manakala pilihan si anak tak sesuai keinginannya maka akan ditimpali dengan “mau jadi apa?”

Bandingkan situasi ini dengan di luar negeri, yang saya tahu sendiri di Australia tidak semua anak masuk ke perguruan tinggi setamat pendidikan setara SMA. Alasannya bukan semata-mata soal biaya namun lebih pada tujuan hidup masing-masing.
n
Jika memang tujuan hidupnya tak mengharuskan menempuh pendidikan tinggi namun menuntut ilmu dan menimba pengalaman di tempat lain, itu sah-sah saja bagi mereka.

Bahkan yang menjadi homestay selama saya tinggal di sana, kedua orang tuanya adalah dokter ternama masing-masing dengan gelar PhD dan Master, anak pertamanya sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas. Namun ketika anak kedua memilih tidak masuk ke perguruan tinggi dan ingin berkarir di bidang seni tak seorangpun dari kedua orang tua maupun kakaknya yang menentang.

Jika memang akhirnya seseorang memilih melanjutkan ke perguruan tinggi pun seleksi dan kompetisinya benar-benar ketat. Bukan asal ada uang seperti di negeri tercinta ini. Karenanya tak heran jika di negara maju mereka yang berstatus sebagai mahasiswa benar-benar terseleksi secara ketat dan memiliki keinginan yang kuat untuk berada di tempat itu.

Ajarkan Cara Menemukan Jalan, Jangan Menunjukkan Jalan

Ketika saya menceritakan pengalaman tersebut sebagai pembanding, orang seringkali berkilah bahwa sistem pendidikan di negara maju lebih berbobot ketimbang di Indonesia jadi sekalipun tak menempuh pendidikan tinggi tetap saja seseorang cukup mampu memasuki ‘real world’.

Kegagalan TerstrukturMungkin! Tapi tergantung juga dari sudut pandang mana kita berbicara. Sesungguhnya saya menilai bahwa lebih masuk akal jika alasannya adalah masyarakat kita tidak pernah mendidik anak untuk menemukan jalannya sendiri namun mendidik anak untuk menempuh jalan yang sudah diciptakan.

Cara mendidik masyarakat kita tidak merangsang seseorang untuk menggunakan inisiatif, mengeksplorasi kreativitas dan menemukan tujuan hidup. Sebaliknya inisiatif dan kreativitas ‘diredam’ sedemikian rupa demi menggapai apa yang disebut oleh sebagian besar orang sebagai sebuah ‘kewajaran’, yang tidak lain adalah mengikuti jalan yang dianggap wajar oleh orang lain.

Analoginya, seorang anak diberitahu sejak kecil bahwa ia harus pergi ke kota “A”. Dia dididik agar menemukan jalan ke kota “A”, setelah itu jika ia menuju ke kota “A” tapi lewat jalan lain maka bisa jadi ia dikatakan ‘susah diatur’. Pun ketika ia sudah menuju ke kota “A” dan melalui jalan yang dikehendaki orang tuanya namun memilih moda transportasi yang tak sesuai keinginan orang tua, maka masih mungkin dicap ‘pembangkang’.

Itulah yang saya maksud sebagai ‘menjalani apa yang sudah ditentukan’ dan ‘menjalani apa yang disebut wajar oleh orang lain’.

Kenapa pula harus dididik untuk menuju ke kota “A”? Padahal ada kota “B” – “Z” belum lagi kota “A1”, “A2”, “AB” dan seterusnya? Pun ketika sudah memilih kota “A” kenapa harus lewat ‘jalan yang itu’? Atau naik ‘kendaraan yang itu’?

Kenapa bukan menggunakan cara mendidik yang membangkitkan inisiatif anak untuk bisa menentukan akan ke kota mana ia menuju? Juga merangsang kreativitasnya untuk memilih serta mengkombinasikan jalur dan transportasi untuk mencapai kota tujuan yang dipilihnya sendiri?

Mimpi!

Kembali pada kejadian yang menjadi pembuka tulisan ini. Kini harapan saya kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Bagaimana mungkin dalam sepuluh, duapuluh tahun atau mungkin setengah abad ke depan mahasiswa kita bisa diperbandingkan dengan mahasiswa di negara maju?

Bukankah motivasi ketika masuk saja sudah berbeda? Proses seleksi yang terjadi juga berbeda.

Enam mahasiswa terpilih tersebut boleh dibilang adalah yang terbaik dari lima puluh orang pendaftar. Sementara lima puluh orang pendaftar tersebut mungkin bukan yang terbaik, melainkan yang masuk ke perguruan tinggi berdasarkan kemauannya sendiri (bukan memenuhi tuntutan masyarakat) dan memilih fakultasnya berdasarkan minatnya sendiri pula (bukan pesanan orang tua atau keluarganya).

Bandingkan dengan kompetitor dari negara lain yang kemungkinan besar dalam satu fakultas lebih dari 90% adalah mereka yang memang memiliki kemauan dan minat untuk masuk perguruan tinggi. Lebih 90% memilih bidang ilmunya berdasar keinginannya sendiri dan jelas 100% sudah melewati proses seleksi dan kompetisi yang ketat. Dari populasi yang demikian ini masih dilakukan seleksi lagi…. Ironis…

Bukan berarti bahwa enam orang tadi atau utusan-utusan yang lain tidak mampu berkompetisi dengan mahasiswa dari negara lain. Toh faktanya banyak pelajar dan mahasiswa kita yang berprestasi di kompetisi internasional.

Yang saya maksud adalah pilihannya terbatas dan sulit untuk melakukan regenerasi yang stabil. Dan yang pasti bahwa mereka yang sanggup berprestasi adalah mereka yang masuk universitas dan memilih bidang ilmunya tanpa paksaan.

Sementara mereka yang masuk universitas karena ‘demi kewajaran’ atau memilih fakultas karena paksaan cenderung hanya menjadi mediocre baik selama proses pendidikan maupun di lapangan kerja nantinya. Bisa jadi IP-nya tinggi tapi ilmunya tidak mengakar dan passion-nya terhadap bidang tersebut sangat lemah atau bahkan tidak ada.

Selama sistem yang berlaku dalam masyarakat kita masih seperti ini rasanya untuk berkompetisi setara dengan kompetitor dari negara lain rasanya masih sekedar mimpi. Dan meski mimpi konon adalah satu-satunya yang masih gratis di negeri ini namun ironisnya belum tentu masyarakat kita mengijinkan mimpi.

Inilah yang saya sebut sebagai ‘sebuah kegagalan yang terstruktur dan terencana’. “Terstruktur” karena ‘racun’ ini disuntikkan dalam lingkungan keluarga dan sekolah baik TK, SD, SMP maupun SMA. “Terencana” karena memang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Salah siapa? Memang tak pernah produktif jika kita bicara ‘salah siapa’ manakala suatu permasalahan terjadi. Tapi untuk membuka mata baiklah kita sebut orang tua dan lingkungan sebagai pihak yang salah karena ingin segala sesuatunya berjalan sesuai ‘apa yang dipikirnya baik’ bukan ‘apa yang baik bagi anak’ meski selalu atas nama ‘demi anak’. Dan juga salah anak yang umumnya mediocre dalam hal inisiatif dan mediocre pula dalam memperjuangkan apa yang diyakininya.

Saya selalu heran terhadap anak-anak yang tidak punya inisiatif dan takut memperjuangkan keyakinannya di hadapan orang tua. Seolah mempertahankan keyakinan adalah dosa.

Kalau saya tak salah ingat (dan saya yakin tidak) dalam 10 Perintah Nya, Allah menyebut: “Hormatilah ibu-bapamu”. Bukan menyebut “Patuhilah ibu-bapamu yang ingin kamu jadi PNS” atau “Patuhilah ibu-bapamu yang ingin kamu masuk universitas”

Menjalani apa yang diyakini memang tidak menjamin kesuksesan, demikian pula menjalani ‘impian’ orang lain. Namun gagal dalam menjalani apa yang diyakini tidaklah sesakit gagal karena menjalani impian orang lain. Demikian pula sukses menjalani keyakinan diri sendiri jauh lebih memuaskan dan berharga ketimbang sukses menjalani impian orang lain.

Tak seorangpun mampu membawa kebaikan bagi orang lain tanpa dia lebih terlebih dahulu baik bagi dirinya sendiri. Tak seorangpun bisa bersikap baik pada dirinya sendiri tanpa ia menghargai keunikan yang ada pada dirinya. Dan keunikan itulah yang harus diperjuangkan, keunikan itulah yang akan membawa perubahan dan ‘warna’ bagi dunia di sekitar kita.

Ketika output pendidikan kita dianggap kurang mumpuni, banyak orang bicara hanya dalam level yang muluk-muluk seperti alokasi dana pendidikan,bangunan sekolah, kurikulum dan sebagainya.

Mungkin memang hal-hal tersebut adalah masalah yang harus diatasi. Tapi jangan lupa bahwa ada ‘gajah di pelupuk mata’ yang harus lebih dahulu diatasi dan itu adalah sesuatu yang bisa dimulai oleh setiap orang. Bukankah jika kita memang sungguh-sungguh mengingkan perubahan harus memulai dari diri sendiri?

Atau kita terlalu takut untuk memulai perubahan dari diri sendiri sehingga sengaja menyoroti hal-hal yang lebih besar? (Satrio)