Google dan Apple Menjadi Impian Pencari Kerja

Bursa Kerja 2011Menurut Business Week Google masih menjadi tempat tujuan utama para lulusan sekolah bisnis di seluruh dunia, meski demikian survei juga menemukan bahwa Apple kini menjadi dianggap sebagai tempat kerja ideal kedua yang menjadi favorit para lulusan baru di bidang bisnis.

Google selama bertahun-tahun selalu menduduki peringkat pertama, ini tak lepas dari budaya organisasi dan penghargaan terhadap kebebasan karyawan dalam berkreativitas yang dipupuk oleh perusahaan ini. Bukan hanya itu, para lulusan berpersepsi bahwa Google adalah tempat bekerja orang-orang pintas dan jenius.

Ada kecenderungan bahwa perusahaan-perusahaan berbasis teknologi semakin dipersepsi membaik dimata para pencari kerja selama beberapa tahun terakhir ini. Pekerjaan di perusahaan berbasis teknologi dianggap memiliki prestise tinggi dan sebaliknya sektor perbankan termasuk asuransi justru mengalami penurunan popularitas yang drastis dari tahun ke tahun.

Selain Apple, perusahaan yang pada tahun 2011 ini naik popularitasnya masing-masing adalah Microsoft, Procter & Gamble, J.P. Morgan dan Goldman Sachs. Sementara Coca Cola yang sebelumnya menduduki posisi 10 besar harus turun di peringkat 12.

Survei tersebut melibatkan lebih dari 160.000 pencari kerja dengan latar belakang pendidikan di bidang bisnis dan teknik dari 12 negara di dunia dengan GDP terbesar. Penyusunan ranking dibuat secara terpisah antara lulusan berlatar belakang bisnis dengan lulusan berlatar belakang teknik.

Manager perekrutan Google, Kyle Ewing menyebut bahwa pencari kerja masa kini mengutamakan perusahaan yang memberikan rasa nyaman bagi pekerja sekaligus membuka kesempatan bagi setiap individu untuk melakukan perubahan besar bagi dunia. Itulah mengapa perusahaan-perusahaan berbasis teknologi menjadi favorit pencari kerja generasi sekarang.

Lebih lanjut Ewing menjelaskan bahwa siswa sekolah bisnis sudah dibiasakan untuk mengatasi persoalan besar dan membuat perubahan besar, karenanya mereka senantiasa mencari perusahaan yang memberi mereka kesempatan untuk itu.

Sementara Paula Loop, manager rekrutmen global untuk PricewaterhouseCoopers menambahkan bahwa nama besar perusahaan turut menjadi faktor utama yang dipertimbangkan para pencari kerja. Para pencari kerja ingin berkesempatan untuk membangun jejaring baik secara personal maupun profesional dengan klien-klien besar yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan ternama.

Karena itu Loop menekankan bahwa kekuatan merk sebuah perusahaan kini bukan semata-mata penting bagi pelanggan namun juga bagi para calon tenaga kerja.

Pada kesempatan terpisah Direktur Eksekutif Rekrutmen Kampus di KPMG, Biane Ruschak menjelaskan bahwa meski nama besar perusahaan dan kesempatan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya untuk mengaktualisasikan kreativitas adalah dua hal penting namun ada hal lain yang turut menjadi pertimbangan calon tenaga kerja. Yaitu manajemen sumber daya manusia yang mampu membantu para karyawan untuk mengembangkan kompetensi pribadi sekaligus penjenjangan karir yang jelas.

Untuk alasan tersebut maka KPMG menyediakan mentor bagi para karyawan baru yang akan membantuk mereka secara pribadi dalam mengembangkan kompetensi dan menyusun rencana pengembangan karir.

Ha lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan perusahaan untuk menyediakan kesempatan bagi karyawannya memiliki keseimbangan antara karir dan kehidupan keluarga. Keseimbangan tersebut kini dipersepsi menjadi lebih penting oleh generasi masa kini dibandng generasi-generasi sebelumnya yang rela mengorbankan segala-galanya demi pekerjaan.

Generasi masa kini telah sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Karenanya perusahaan harus memberikan dukungan agar keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi para karyawannya dapat tercapai. Bahkan kini di AS telah banyak konsultan yang menyediakan jasa untuk membimbing pihak perusahaan dan karyawan dalam menjamin keseimbangan hidup karyawan.

Karl-Johan Hasselström, Regional Manager Universum mengamini pendapat Ruschak dan menegaskan bahwa perusahaan yang tidak mampu memfasilitasi terpenuhinya keseimbangan karir-keluarga para karyawannya harus bersiap tergusur dari posisinya sebagai tempat tujuan talenta-talenta berbakat.

Keseimbangan hidup, inovasi dan kreativitas adalah atribut-atribut penting bagi generasi masa kini (lahir tahun 1990 – awal 2000). Hal ini berbeda dengan generasi Baby Boomer (kelahiran 1946- akhir 1960-an) dan Generasi X (kelahiran 1970 – awal 1980) yang semata-mata hanya mengejar kepuasan material.