Natal dan Hadiah Natal Terindah

Natal 2012 - the WicaksonosNatal tahun ini meninggalkan banyak kesan yang sangat mendalam bagi keluarga kami. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadikan Natal tahun 2012 ini menjadi istimewa bagi kami. Pertama adalah karena ini merupakan Natal pertama kami bersama Jethro (anak kami) , kedua ini adalah pertama kalinya kami merayakan Natal di luar Indonesia dan yang ketiga Natal kali ini sekaligus menjadi sebuah reuni antara saya dan ex homestay dimana saya pernah tinggal bersama mereka pada tahun 1997 lalu.

Kurang lebih lima belas tahun lamanya kami (saya dengan keluarga ex homestay) tidak saling bertemu dan berhubungan satu sama lain. Ketika saat-saat awal saya kembali ke Indonesia kami sempat saling menelepon dan berkirim surat. Namun tak lama setelah itu Indonesia mengalami krisis moneter yang luar biasa sehingga untuk menelepon bahkan berkirim surat ke luar negeri pada saat itu terasa sangatlah mahal bagi saya. Terlebih kala itu saya masih belum memiliki penghasilan sendiri.

Beberapa kali keluarga Wigg, terutama Carole (ibu) masih sempat mengirimkan surat dan kartu ucapan selamat Natal. Namun beberapa kali saya tidak membalas hingga akhirnya hubungan surat menyurat itupun terputus.

Email atau SMS tentu bukan pilihan kala itu mengingat jaringan internet di Indonesia masih sangat langka dan terbatas sementara telepon seluler hanya dimiliki segelintir orang yang terbilang kaya pada tahun tersebut.

Ketika internet mulai “merakyat” beberapa kali saya sempat mencoba memasukkan nama-nama anggota keluarga Wigg satu per satu di mesin pencari namun tidak membawa hasil. Ketika dimulai era Friendster kemudian beralih trend ke Facebook hingga pada akhirnya LinkedIn saya masih terus mencoba memasukkan nama mereka satu persatu di situs jejaring sosial tersebut. Sayang upaya tersebut tidak membawa hasil.

Surat-surat terakhir yang dikirim oleh Carole juga entah terselip dimana, saya yakin tidak pernah membuangnya namun juga tidak ingat dimana persisnya saya menyimpan.

Beruntung pada akhirnya ketika sekitar setahun yang lalu mencoba-coba memasukkan nama mereka di mesin pencari saya berhasil menemukan Peter (Ayah) dan Carole. Ternyata mereka berdua sudah pensiun dan mengisi masa pensiunnya dengan terlibat di MAPW (Medical Association for Prevention of War). Sebelum pensiun Peter adalah seorang psychiatrist, sementara Carole adalah GP (dokter).

Alamat mereka tentu tidak bisa saya temukan di internet namun saya berhasil mendapatkan alamat email Carole yang kebetulan menjabat sebagai National Secretary MAPW.

Dari situlah komunikasi antar kami kembali terjalin hingga pada akhirnya ketika saya kembali lagi ke Melbourne, Carole mengunjungi kami tak lama setelah Jethro lahir.

Natal dan Reuni

Beberapa waktu sebelum Natal, Carole menghubungi saya dan menanyakan rencana keluarga kami untuk Natal nanti dan mengundang keluarga kami untuk bergabung dengan keluarga besar mereka saat Natal nanti jika memungkinkan.

Sekalipun tertarik namun saya tidak langsung mengiyakan mengingat perjalanan dari tempat kami tinggal ke Eltham dimana mereka tinggal cukup jauh, padahal usia Jethro masih dua bulan dan dia akan mendapat imunisasi pertamanya pada tanggal 20 Desember.

Awalnya saya menolak undangan tersebut dan menjelaskan alasannya, namun Carole kembali mengajak kami untuk bergabung. Jika memang kami tidak berani mengajak Jethro untuk piknik Natal maka kami diundang untuk datang ke rumah mereka sore harinya setelah mereka pulang dari piknik.

Setelah mempertimbangkan dan mendiskusikan bersama istri akhirnya saya menerima undangan mereka.

Kami berangkat menuju ke Eltham dengan kereta pukul 15.42. Ini adalah pengalaman pertama Jethro naik kereta sekaligus pengalaman pertamanya pergi sejauh itu.

Sepanjang perjalanan saya sedikit banyak mulai teringat kembali kenangan-kenangan lima belas tahun yang lalu.

Satu jam kemudian sampailah kami di Stasiun Eltham, saya masih sangat mengenali stasiun ini karena nyaris tidak ada hal yang berubah selain keberadaan mesin-mesin MYKI.

Tak lama setelah kami tiba Peter dan Carole juga tiba untuk menjemput kami, dari kejauhan keduanya kelihatan antusias melambai-lambaikan tangannya kepada kami dan kamipun membalasnya.

Ketika akhirnya kami berhadapan Peter memeluk saya sambil berkata bahwa dia sungguh tidak pernah menduga bahwa kami akan bertemu kembali. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Peter sejak tahun 1997. Ketika kami tiba kembali ke Melbourne, Peter masih berada di Timur Tengah untuk menjalankan misi kemanusiaan di Yordania, Irak, Yaman, Palestina, Syria, Mesir dan Libya.

Sejujurnya saya tak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti ini. Baik Peter maupun Carole menyambut kami dengan sangat hangat.

Setelah berkendara kurang lebih tujuh menit maka tibalah kami di kediaman mereka yang baru. Sejak tahun 2001 mereka sudah tidak lagi menempati rumah dimana saya pernah tinggal bersama mereka dan memutuskan pindah ke rumah baru yang menurut mereka lebih kecil karena anak-anak mereka (Catherine dan Oliver) sudah tidak lagi tinggal bersama orang tuanya.

Saya katakan “rumah yang lebih kecil menurut mereka” karena terus terang saya tidak merasa rumah barunya lebih kecil dari yang lama, bahkan terasa sama besarnya.

Tak lama setelah kami tiba di rumah itu keluarga Oliver (anak kedua mereka yang sebaya saya) beserta orang tua Nina (istri Oliver). Sementara Catherine (anak pertama mereka, setahun lebih tua dari saya) tidak datang ke rumah kediaman keluarga Wigg karena sedang berada di Perancis. Oliver dan saya sepantaran, anak kami pun demikian karena istrinya melahirkan anak pertama selisih dua minggu setelah Jethro lahir. Adik Carole juga sudah ada di sana terlebih dahulu dan dengan hangat menyapa kami.

So This is Christmas…

Turun dari mobil Peter dan saya sempat berbincang sebentar di depan garasi sambil ia menunjukkan rumah lama mereka yang nampak bagian belakangnya dari rumah yang sekarang. Kemudian kami semua menyusuri jalan masuk ke dalam rumah.

Berbagai hidangan manis khas Natal sudah tertata di meja, sementara kursi-kursi telah diatur mengelilingi meja tersebut.

Suasana hangat dan santai sangat kental terasa di kediaman keluarga Wigg sore itu. Untuk kedua kalinya Peter berkata pada saya bahwa ia sangat senang bisa karena keluarga kami bisa berkumpul di rumah mereka.

Kami saling mengobrol satu sama lain dengan topik yang berganti-ganti mulai topik tentang bayi (karena kebetulan keluarga saya dan keluarga Oliver sama-sama baru saja memiliki bayi), beralih ke proses melahirkan, mengenang kejadian serta hal-hal yang kami alami lima belas tahun yang lalu ketika saya tinggal bersama mereka dan sebagainya.

Di sela-sela pembicaraan kami juga saling bertukar hadiah Natal. Bukan hadiah-hadiah mahal, hanya hal-hal sederhana namun menjadi sangat berarti karena saling memberi secara tulus dan saling menghargai satu sama lain.

Hal yang menyebabkan suasana saat itu terasa hangat karena semua pembicaraan berlangsung dengan tulus, tanpa tendensi. Sangat berbeda dengan acara Natal keluarga, Lebaran keluarga atau reuni-reuni yang pernah saya hadiri sebelumnya dimana selalu diisi obrolan penuh tendensi seperti memamerkan pencapaian-pencapaian (karier, harta, pengalaman, dll) yang membuat obrolan menjadi tidak bermakna dan tak lebih dari ajang pamer semata.

Memang kami sempat berbicara pekerjaan, namun itu karena mereka ingin tahu pengalaman dan perjalanan hidup saya sejak terakhir kali bertemu dengan mereka. Peter pun sempat menceritakan pengalamannya menjalankan misi kemanusiaan di Timur Tengah selama hampir setahun oleh karena saya menanyakannya. Ketika bercerita pun Peter sama sekali tak berkesan menyombongkan pengalamannya namun lebih menekankan pada cerita-cerita mengenai budaya setempat, pengalaman lucu dan sebagainya. Selepas itu tak ada sama sekali pembicaraan mengenai pekerjaan di antara kami.

Obrolan sore itu terasa akrab, padahal sudah lima belas tahun saya tak bertemu mereka dan bahkan ini adalah pertama kalinya saya bertemu orang tua Nina. Rasanya sikap saling menghargai, tulus dan tanpa tendensi lah yang menjadikan suasana dan obrolan terasa sangat akrab.

Antara Peter-Carole dengan orang tua Nina pun obrolannya terasa santai, tanpa basa-basi, saling jaga image namun tetap terasa saling menghargai satu sama lain.

Keluarga Oliver berpamitan lebih dahulu karena Izzy (anak mereka) tampak kelelahan dan rewel, orang tua Nina juga berpamitan. Akhirnya tinggallah keluarga saya bersama Peter dan Carole. Kami masih melanjutnya obrolan dan reuni setelah lima belas tahun. Mereka menceritakan kepada istri saya tentang kejadian-kejadian selama saya tinggal bersama mereka. Peter juga sempat mengajak saya dan istri melihat rumah lama mereka dari luar sementara Carole tetap di dalam rumah menggendong Jethro.

Di tengah obrolan Carole sempat menyinggung bahwa Oliver menyebut saya sempat tidak mengenali (pangling) ketika bertemu dengannya (Oliver). Memang saya cukup pangling karena lima belas tahun yang lalu Ollie berambut panjang sementara sekarang selain berambut pendek juga berkacamata. Pembawaannya pun jelas beda dengan lima belas tahun lalu ketika masih SMA.
Namun di sisi lain saya juga berkata di depan Peter dan Carole bahwa mereka berdua tak banyak berubah dibanding lima belas tahun yang lalu. Mendengar perkataan saya itu Peter tersenyum sambil melirik Carole dan menyikutnya sementara Carole juga tersenyum.

Setelah sekian lama mengobrol Peter dan Carole mengajak kami ke Eltham College, tentu saya tak berharap mereka akan membawa kami ke sana. Memang istri saya sudah sejak lama ingin datang dan melihat langsung seperti apakah Eltham College yang selama ini selalu saya ceritakan. Namun tidak mudah untuk menuju ke sana karena selain lokasinya jauh saat ini kami juga memiliki bayi. Beruntung sekali Peter dan Carole menawarkan mengantar kami ke sana.

Meski banyak yang sudah berubah dari sekolah itu (Eltham College), namun masih ada beberapa hal dan kenangan yang saya tersisa dalam ingatan saya. Saya juga masih bisa menunjukkan ke istri halte bus tempat saya dahulu menunggu bus sekolah, mini market tempat saya biasa membeli makanan kecil dan sebagainya.

Dari Eltham College Peter dan Carole mengantar kami kembali ke suburb tempat kami tinggal. Sesampai di apartemen kami menawarkan mereka untuk mampir sebentar dan merekapun dengan antusias meng-“iya”-kan. Ketika saya minta tolong Peter untuk membukakan bagasi mobilnya karena saya hendak mengambil tas perlengkapan bayi yang ada di dalamnya dengan bercanda dia berkata bahwa dia lupa membuka bagasi karena merasa saya masih tinggal bersama mereka.

Sisa sore itu kami habiskan bersama dengan membicarakan berbagai topik santai di apartemen kami. Lagi-lagi obrolan berlangsung sangat akrab, tulus dan tanpa tendensi seolah kami tidak pernah terpisah selama lima belas tahun terakhir ini.

Natal 2012 - the Wicaksonos & the Wiggs

the Wicaksonos & the Wiggs

Banyak hal yang saya pelajari hari itu. Jika merayakan Natal adalah tentang berbagi kasih dengan tulus maka harus saya akui bahwa itulah pertama kalinya semangat Natal sungguh-sungguh saya rasakan.

Betapa tidak, lima belas tahun lamanya kami terpisah dan tidak saling berhubungan sama sekali, namun begitu bertemu kembali mereka menyambut saya dan keluarga dengan sangat antusias, hangat dan penuh ketulusan.

Lagi-lagi saya sangat terkesan dengan suasana hangat dan akrab sepanjang sore itu yang bisa terwujud karena masing-masing tidak memiliki tendensi seperti memamerkan pencapaian diri ataupun menilai lawan bicaranya. Masing-masing membicarakan topik-topik ringan sementara satu orang berbicara lawan bicaranya selalu menyimak dengan tulus dan antusias.

Membandingkan pengalaman di hari itu dengan suasana di Indonesia saya jadi berpikir betapa ironisnya Indonesia yang mengaku negara ber ke-Tuhanan, mengaku orang-orang beragama namun menjelang Natal justru diwarnai dengan berbagai perselisihan mulai dari boleh tidaknya kelompok tertentu mengucapkan “Selamat Natal”, ancaman terhadap kegiatan Natal. Ketika Natal telah usai pun masih ada yang dengan dangkalnya membuat perumpamaan yang mempersamakan ucapan “Selamat Natal” dengan mengucapkan kalimat dalam syahadat. Bahkan sebenarnya bukan hanya saat Natal saja, selalu ada perselisihan antara Kristiani dengan non Kristiani, antar umat Kristiani baik Katolik dengan Protestan maupun antar gereja Protestan. Belum lagi perselisihan sepele lain karena perbedaan suku dan sebagainya.

Bagaimana bisa orang-orang yang mengaku diri beriman termasuk yang merayakan dan memahami makna sesungguhnya dari Natal justru bersikap tidak saling menghargai, tidak menunjukkan kasih serta ketulusan bahkan terkadang sikapnya cenderung biadab. Sementara di lain pihak di sini dimana mayoritas orang tidak percaya akan adanya Tuhan serta memaknai Natal tak beda halnya dengan Valentine, Thanksgiving dan sebagainya justru bisa menunjukkan kasih yang tulus tanpa pamrih, menghargai perbedaan, menghargai orang lain dan bersikap jauh lebih beradab ketimbang yang mengaku beriman.

Bagaimana mungkin pula kita sebagai orang Timur yang selalu membanggakan diri menjunjung tinggi nilai kekeluargaan namun dalam pertemuan keluarga atau reuni lebih banyak dipenuhi dengan arogansi memamerkan pencapaian-pencapaian pribadi, menilai orang lain, tindakan penuh pamrih serta basa-basi yang tidak tulus.

Sungguh saya akui bahwa pengalaman hari itu menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga, hari itu saya sungguh-sungguh merasa “berlibur”, seolah sejenak bisa melupakan berbagai tekanan pekerjaan. Namun yang lebih penting, keluarga Wigg mengajarkan keluarga kami arti sesungguhnya dari kasih, ketulusan dan persaudaraan. Itu adalah Natal terindah keluarga kami hingga saat ini sekaligus hadiah Natal terindah yang pernah diterima keluarga kami selama ini.