BlackBerry Memilih Indonesia dan India Sebagai Exit Strategy

RIM perusahaan asal Kanada yang sempat sukses sesaat dengan produk BlackBerry baru-baru ini menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk berbagai kemungkinan dan penawaran dalam upaya mempertahankan kemampuan perusahaan untuk tetap beroperasi.

BlackBerry Curve 9920

Pernyataan tersebut akhirnya muncul setelah kondisi finansial perusahaan yang tak juga membaik hingga memasuki kuartal ke-4.

Meski tak secara eksplisit menjelaskan apa yang dimaksud sebagai “terbuka terhadap semua penawaran” namun diyakini bahwa RIM siap menjual lisensi sistem operasinya ataupun tawaran lain seperti merger atau akuisisi.

Hingga hal itu terjadi, menjual smartphone BlackBerry tetap menjadi fokus utama RIM. Karenanya perusahaan ini secara agresif melakukan kampanye dan ekspansi di emerging market (atau beberapa orang menyebutnya sebagai slump market) seperti Indonesia dan India.

Sebagaimana diketahui bahwa emerging market adalah satu-satunya pangsa pasar yang masih bisa dikuasai oleh RIM setelah kehilangan pangsa pasar secara dominan di benua Amerika dan Eropa beberapa tahun terakhir akibat kalah bersaing dari Android, Apple dan Windows Phone.

Strategi yang sama pernah ditempuh oleh Nokia di akhir masa pacekliknya dan gagal sebelum pada akhirnya mulai bangkit perlahan setelah bekerja sama dengan Microsoft menyediakan smartphone berbasis Windows Mobile.

Baru-baru ini RIM juga telah meluncurkan produk terbarunya BlackBerry Curve 9920 di India seharga 11.000 Rupee. Meski merk RIM masih memiliki arti di Indonesia, India dan beberapa emerging market lainnya namun bukan berarti langkahnya akan mulus tanpa hambatan. Merk-merk Asia seperti Pantech dan Huawei belakangan ini menjadi rising stars di pasar Asia.

Sumber: The Wall Street Journal