Personal (Re) Branding

Personal RebrandingPada posting beberapa tahun lalu pernah dibicarakan mengenai merk pribadi atau personal brand. Secara singkat, personal brand bisa digambarkan sebagai kesan dan pesan yang ingin ditampilkan seseorang mengenai dirinya sendiri.

Keberhasilan dari personal brand pada dasarnya terletak pada dua kunci yaitu: keunikan dan konsistensi. Maka seorang yang berhasil dengan personal branding tentu memiliki keunikan dan konsistensi tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana jika seseorang hendak mengubah personal brand-nya?

Konsistensi tentu adalah hal penting dalam personal branding namun manakala seseorang ingin melakukan re-branding tak jarang konsistensi brand yang lama menjadi barrier.

Mengapa seseorang perlu melakukan personal re-branding?

Bayangkan andaikata seseorang tertarik untuk berganti bidang pekerjaan atau karir yang berbeda sama sekali dengan apa yang selama ini telah ditekuni. Bukankah bidang yang selama ini ditekuni olehnya sudah menjadi bagian dari personal brand-nya juga?

Pada masa kini dimana segala sesuatunya begitu dinamis, perubahan karir dan bidang pekerjaan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Seorang tenaga penjual beralih menjadi entrepreneur, seorang yang engineer ingin menjadi marketer atau seorang Vice President kemudian menjadi motivator. Semua adalah mungkin dan bahkan sudah sangat wajar.

Saya sendiri pernah berkali-kali berganti bidang pekerjaan yang nyaris tidak saling berhubungan. Lulus dangan ijazah Sarjana Hukum kemudian delapan bulan kemudian bekerja sebagai asisten manajer di sebuah perusahaan ritel terbesar di Indonesia (kala itu), kemudian bak seorang James Bond menjadi marketing intelligence di sebuah perusahaan consumer goods. Berlanjut lagi dengan mengambil gelar master di bidang manajemen pemasaran sambil menjadi teknisi komputer (wirausaha), setelah memperoleh gelar master kemudian bergabung dengan kantor perusahaan otomotif terbesar di Indonesia sebagai officer yang bertanggung jawab atas cash-flow, lalu menjadi konsultan bidang pemasaran dan pengembangan bisnis sekaligus menjadi pemilik toko sebelum pada akhirnya nyaman menjadi internet marketing entrepreneur.

Namun selain penguasaan terhadap bidang pekerjaan yang baru tersebut ada hal lain yang tak kalah pentingnya. Ingat bahwa segala sesuatu perlu keseimbangan antara konten dan konteks. Seberapapun kemampuan teknis seseorang jika tak disertai dengan konteks yang mendukung maka kemungkinan gagal adalah 50%!

Berbicara mengenai konteks adalah berbicara mengenai personal branding. Karena itu ketika seseorang memutuskan berganti bidang pekerjaan bukan hanya pengetahuan teknis yang harus dimiliki namun juga personal re-branding.

Seseorang bisa saja cepat belajar dan menguasai keterampilan baru di pekerjaan barunya namun tanpa personal branding yang mendukung akan sulit memperoleh kepercayaan dari orang lain.

Untuk memastikan keberhasilan sebuah upaya melakukan personal re-branding maka ada lima hal yang harus dilakukan:

Pahami bidang pekerjaan yang baru. Mungkin seseorang adalah engineer yang memiliki kemampuan luar biasa dan diakui oleh rekan-rekan sekerjanya dalam pekerjaan sebelumnya. Dibandingkan seorang marketer yang menyusun dan merancang konsep serta strategi pemasaran tentu engineer lebih mengerti detil keunggulan dan kelemahan produk secara teknis.

Namun ketika berganti profesi menjadi seorang marketer, pemahaman teknis secara detil mengenai suatu produk tidak lagi menjadi jamin keberhasilan untuk sukses di pasar.

Untuk melakukan negosiasi, Anda tidak bisa menggunakan bahasa-bahasa yang terlalu teknis. Tidak bisa pula mengandalkan bukti bahwa produk tersebut lebih unggul dibanding kompetitor. Keunggulan tidak ada manfaatnya tanpa relevansi. Menemukan relevansi itulah yang menjadi tugas marketer. Seorang marketer harus memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pasar kemudian mengeksploitasinya semaksimal mungkin. Bahkan tidak jarang seorang marketer harus ‘menciptakan’ kebutuhan dan keinginan pasar, bukan sekedar mengenalinya.

Intinya adalah jangan menjadi orang yang kaku dan arogan dengan memandang segala sesuatunya dari sudut pandang profesi Anda sebelumnya. Bersikaplah terbuka dalam mempelajari bidang baru yang hendak digeluti.

Gunakan keunikan sebagai daya ungkit. Dalam pemasaran dikenal dengan UPS (unique selling proposition). Galilah apa yang menjadi keunikan atau nilai pembeda antara Anda dengan orang lain sekalipun berprofesi sama. Eksplorasi keunikan tersebut sehingga menjadi sebuah keunggulan yang bakal menjadi ciri khas Anda sekaligus tak mungkin disamai oleh orang lain. Kunci dari USP adalah: jujur (tidak dibuat-buat) dan unik.

Sering orang dalam melakukan personal branding tergoda untuk tidak jujur agar diterima oleh orang lain. Pakar pemasaran Hermawan Kartajaya dalam sebuah kesempatan menyebut kurang lebih demikian: “Jadilah diri Anda sendiri, jika memang orang lain merasa cocok dengan passion Anda pasti akan nyambung (dan) jika tidak biarkan!”

Ketidakjujuran selain membuat Anda merasa tidak nyaman karena harus menyesuaikan diri dengan orang-orang yang sebenarnya ‘tidak nyambung’ juga cenderung tidak konsisten karena tidak orisinil.

Bangun kesesuaian antara profesi lama dengan profesi baru. Profesi lama Anda tak lantas harus dilepas atau dilupakan ketika Anda menggeluti profesi baru. Sebaliknya temukan benang merah antara keduanya dan bangun relevansinya sehingga menjadi sebuah kekuatan.

Jika Anda adalah seorang engineer maka (umumnya) Anda lebih tahu seluk beluk teknis sebuah produk secara mendalam dibanding seorang marketer murni.

Padukan pengetahuan tersebut dengan pengetahuan dan keterampilan baru yang Anda miliki sehingga melahirkan sebuah kompetensi baru yang membuat Anda lebih unggul.

Perkenalkan kembali diri Anda. Dengan kemajuan teknologi komunikasi dan semakin luasnya pergaulan semakin sulit juga bagi seseorang untuk mengingat orang lain secara detil terlebih terkait profesi dan pekerjaannya.

Manfaatkan kondisi ini untuk ‘memperkenalkan kembali’ siapa Anda pada para kolega atau relasi pada setiap kesempatan. Perkenalkan profesi dan kompetensi baru Anda pada mereka atau bisnis baru yang sedang Anda jalankan.

Bisa jadi kompetensi dan bisnis lama Anda tak relevan bagi orang-orang tersebut namun kompetensi dan bisnis baru Anda memiliki relevansi yang kuat dengan mereka. Atau jika tidak minimal Anda sudah ‘memperkenalkan diri anda yang baru’ .

Pamerkan kemampuan Anda. Saat ini akses internet adalah hal yang lumrah. Fasilitas-fasilitas seperti blog, situs jejaring sosial seperti Linkedin, Google Plus, Facebook, Twitter dan sebagainya bisa dengan mudah dibuat maupun diakses oleh siapapun.

Gunakan semua kemudahan itu untuk ‘memamerkan’ pemikiran, hasil karya atau produk Anda. Banyak buku berkualitas yang membahas mengenai branding dan marketing dengan menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Pelajari satu per satu dan sesuaikan dengan keperluan Anda.

Ingat bahwa masing-masing memiliki karakternya sendiri. Blogging berbeda dengan media jejaring sosial. FB, Linkedin, Google Plus, Twitter dan sebagainya masing-masing juga memiliki karakter yang berbeda, jangan menggunakan asal-asalan yang malah bisa menjatuhkan brand Anda. Lebih-lebih jangan sampai menjadi ‘spammer’

FB misalnya harus dimanfaatkan sebagai media komunikasi dua arah, sebaliknya Twitter lebih efektif menjadi media komunikasi satu arah. Linkedin di lain pihak sangat efektif untuk “memamerkan” CV atau portfolio Anda, desain dan jejaringnya lebih profesional dibanding media jejaring sosial lainnya.