Melbourne Sekarang dan 15 Tahun Lalu

Kota Melbourne sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu (1997) ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. Banyak hal sudah berbeda dari ingatan dan pengalaman saya kala itu.

Melbourne yang semakin padat

Dibandingkan kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta tentu Melbourne jauh lebih bersih, teratur dan beradab. Banyak taman-taman baik di pinggiran maupun di pusat kota (City), para pengemudi kendaraan pribadi maupun umum sangat tertib dan saling menghargai di jalan, tidak seperti di Indonesia yang ugal-ugalan dan masing-masing mau menang sendiri. Suara klakson adalah suara yang jarang terdengar dalam keseharian, tak seperti pengemudi di Indonesia yang mengemudi tanpa membunyikan klakson bagai makan tanpa kerupuk entahlah .  Kondisi jalanan pun lebih bersih dan udara lebih segar sekalipun di pusat kota.

Melbourne

Salah satu sudut Swanston St X Collins Street dilihat dari balkon Melboune Town hall

Meski demikian jika dibandingkan 15 tahun yang lalu tingkat kepadatan sudah jauh lebih tinggi. Meski tertib namun tingkat kepadatan di jalan sudah berkali-kali lipat lebih tinggi ketimbang kala itu. Arus lalu lintas terutama pada pagi hari dan sore selepas jam 6 pm cukup padat, bahkan di ruas-ruas jalan tertentu terjadi kemacetan. Keadaan ini tak saya temukan 15 tahun yang lalu. Sebagai orang Salatiga saya melihat kepadatan arus lalu lintas pada jam-jam tersebut tak beda seperti arus lalu lintas di Semarang pada jam-jam sibuk. Namun lagi-lagi harus diakui bahwa para pengemudi di sini lebih tertib dan sopan ketimbang di Indonesia.

Selama di sini juga jarang (bukan tidak ada) saya temukan pengemudi yang mengemudi sambil ber telepon atau ber sms, apalagi pengemudi roda dua yang dengan tololnya menggunakan satu tangan untuk ber-sms sementara tangan satunya memegang kemudi sambil motor tetap berjalan seperti di Indonesia.

Kendaraan roda dua pun juga cukup banyak dijumpai di sini, banyak mahasiswa yang membawa sepeda motor baik skuter maupun motor sport ke kampus. Dulu jarang sekali terlihat kendaraan roda dua, baru pada saat weekend saja bisa terlihat kendaraan-kendaraan roda dua di jalanan.

Jumlah warga asing dari pengamatan saya juga banyak meningkat, meski sejak dulu Melbourne sudah terkenal dengan keberagamannya namun masih belum sebesar saat ini jumlahnya. Orang Asia dan Timur Tengah banyak dijumpai di Melbourne, mugkin juga masih banyak orang asing lainnya namun bagi saya sulit membedakan orang Kaukasia apakah penduduk Australia atau bukan kecuali jika berbicara.

15 tahun yang lalu jarang-jarang saya bertemu dengan sesama orang Asia tapi sekarang seolah jalan kemanapun ketemu orang Asia. Bahkan kadang ketika berjalan, berbelanja atau naik tram tiba-tiba terdengar percakapan bahasa Indonesia… setelah ditengok eh…. orang Indonesia juga…. kaget2

Meningkatnya tingkat kepadatan juga berdampak negatif, jika dulu setidaknya selama saya berada di Melbourne tidak pernah menemukan pengemis kini ada beberapa pengemis di jalanan meski tak sebanyak di Indonesia. Di traffic light juga muncul “pencuci mobil” dadakan.

Transportasi Publik di Melbourne

Dulu transportasi publik di Melbourne sudah sangat baik, dan hingga sekarang tampaknya pemerintah masih mempertahankan serta memperbaiki sistemnya.

Meski ada pro dan kontra mengenai penggunakan MYKI namun saya pikir itu adalah wajar, perubahan apapun selalu menimbulkan perdebatan. Bagi saya sendiri MYKI sangat memudahkan pengguna transportasi publik. Konon perubahan dari sistem tiket lama (V/Line) ke Metcard pada bulan April 2006 pun juga diwarnai pro dan kontra.

Secara fisik, kartu MYKI mirip seperti kartu ATM atau kartu kredit. Bagi yang belum memiliki kartu ini banyak dijual di convinience store, kantor Pos dan sebagainya dengan harga $6. Untuk bisa menggunakannya kita harus mengisinya (top up/recharge) seperti mengisi pulsa. Nominal pengisiannya juga variatif dan bisa dibeli dibanyak tempat atau online sekalipun.

Balance kartu MYKI bisa dicek di mesin-mesin yang tersedia di stasiun ataupun tram stop atau melalui website.

Transportasi Publik di Melbourne

Tram, salah satu sarana transportasi umum paling populer di City dan beberapa suburb sekitarnya

MYKI ini menggantikan sistem tiket sebelumnya yang dikenal dengan Metcard dan saat ini masih berlaku hingga akhir 2012. Saya tidak mengalami masa Metcard, konon Metcard mulai berlaku sejak tahun 2006. 15 tahun lalu ketika berada di Melbourne tiket transportasi publik masih menggunakan kartu berupa kertas karton yang dijual di stasiun, saat itu kita bisa memilih harian, mingguan atau bulanan beserta Zone sesuai kebutuhan.

Kalau MYKI penggunaannya dengan cara touch on (disentuhkan) pada mesin yang tersedia maka tiket yang saya miliki 15 tahun lalu masih manual dan ditunjukkan pada petugas yang ada. Masalahnya tidak selalu ada petugas yang berjaga, jadi saya sering berpikir kalau di Indonesia pasti akan banyak sekali penumpang gelap. Meski bukan berarti di sini juga akan bebas 100% dari penumpang tak bertiket.

Meski tranportasi publik di Melbourne terbilang mudah dan nyaman namun jika Anda berada di sini, tujuan perjalanan tidak terlalu jauh dan tidak dikejar waktu maka jalan kaki adalah metode yang paling saya rekomendasikan. Terlalu banyak keindahan di kota ini yang bakal terlewat jika Anda menggunakan kendaraan. Dan memang faktanya mayoritas mereka yang tinggal di City juga lebih banyak berjalan kaki. Kendaraan pribadi jarang menjadi pilihan bagi yang tinggal di City, biasanya mobil pribadi hanya digunakan ketika hendak ke suburb yang jauh dari City.

Teknologi dan Gaya Hidup

Perkembangan teknologi tentu merubah gaya hidup, rasanya ini adalah fenomena universal dimanapun.

Ketika saya datang ke Melbourne tahun 1997 internet masih belum marak. Kala itu saya hanya bisa menggunakan internet di sekolah, itupun dengan kecepatan yang terbilang sangat lambat dibanding kecepatan internet saat ini.

Tahun 1997 saya hanya menggunakan internet untuk browsing, tidak sekalipun pernah menggunakannya untuk mengirim atau menerima e-mail. Kenapa? Ya karena saat itu belum banyak orang yang punya alamat e-mail, boro-boro alamat e-mail, akses internet saja minim.

Saya ingat ketika itu sistem operasi yang dipakai di PC-PC sebagian besar adalah Windows 95, padahal di Indonesia sudah banyak yang menggunakan Windows 98. Indonesia lebih maju dalam teknologi? Bukan! Sebab di sini orang beli Windows original sementara di Indonesia bajakan peace , jadi upgrade sistem operasi di Indonesia bisa dibilang murah saat itu.

Telepon genggam juga masih merupakan kemewahan baik di sini maupun di Indonesia tahun 1997. Saat itu homestay dimana saya tinggal termasuk orang kaya, suami-istri dokter yang cukup terkenal, tapi saat itu juga tak ada koneksi internet di rumah maupun telepon genggam.

Kini semua sudah berubah, koneksi WiFi tersedia dimana-mana, termasuk free WiFi. Bahkan free WiFi di sini jauh lebih cepat dan stabil ketimbang internet berbayar langganan saya di Indonesia.

Di Indonesia saya berlangganan paket internet yang klaimnya up to 1 Mbps, yang saya dapat sekitar 384 Kbps… itupun kalau tidak RTO (real time out) dan lagi beruntung. Di sini saya berlangganan internet yang disediakan pengelola gedung tempat saya tinggal, teorinya up to 21 Mbps, prakteknya seburuk-buruknya saya dapat 1 Mbps yang masih tetap membuat saya terkagum-kagum karena membandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Plus hingga saat ini saya belum pernah mengalami RTO.

Smartphone dan tablet kini juga sudah jadi barang umum dipakai dimana-mana. Yang beda dengan Indonesia adalah produk keluaran RIM (BlackBerry) sama sekali tidak populer di sini. Sebagian orang di sini menggunakan produk Apple (iPhone 4/S, iPad, MBP, MBA), device Android seperti Galaxy S II menduduki posisi kedua (Galaxy S III masih jarang), diikuti Windows Phone. Bagaimana dengan BlackBerry? Jarang…. sekali…. kalaupun ada 90% bisa dipastikan pemiliknya orang Indonesia atau India. Jelas saja, sebab tinggal di dua negara itulah BlackBerry masih laku.

Maraknya orang membawa tablet dan smartphone juga berpengaruh terhadap perilaku keseharian. Di jalan maupun di dalam moda transportasi publik hampir semua orang baik tua maupun muda sibuk dengan gadget-nya. Penggunaan headset juga sangat populer di sini, logo headset populer sepert Monster atau Beats by Dr Dre bisa dijumpai dimana-mana.

Supermarket seperti Coles juga menyediakan mesin auto check out, artinya kita tinggal men-scan barcode belanjaan kita kemudian membayar ke mesin itu baik secara cash, eftpos (kartu debit) maupun dengan kartu kredit.

Saat pertama kali berbelanja di Coles dalam hati saya tertawa kerena teringat ibu saya yang sebelum kami berangkat baru saja membeli ponsel HTC Desire VC, dan hingga sekarang masih kesulitan menggunakannya. Saya terbayang andai saja ibu ada di sini dan harus berbelanja di Coles dengan self check out atau menggunakan tranportasi publik dengan kartu MYKI, bagaimana bingungnya…. hmm

Docklands – Soon to be City

Tahun 1997 ketika saya pertama kali di Melbourne, Docklands dikenal sebagai tempat hiburan malam. Kini kawasan ini sudah berkembang pesat sebagai daerah hunian, belanja dan perkantoran elit di Melbourne Barat.

Konon pembangunannya dimulai pada tahun 2000 oleh pemerintah Federal dan selanjutnya dikelola dan dikembangan lebih lanjut oleh pemerintah kota pada tahun 2007.

Kawasan elit ini terletak di tepi sungai Yarra yang terkenal indah. Jika berkunjung ke Docklands atau melewati saat Anda mengikuti Yarra Cruise maka tampak begitu banyak Yacht yang terparkir di sekitaran Docklands.

Saat ini pembangunan masih berlanjut dan bagian kota ini memang tampak belum selesai, namun potensi keindahannya sudah bisa dinikmati. Rencananya dalam lima belas tahun kedepan dengan selesainya proyek pengembangan Dockland maka wilayah City akan bertambah besar dua kali lipat dari yang sekarang.

Jika Anda penggemar olah raga maka Etihad Stadium mungkin akan menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Nama aslinya adalah Docklands Stadium namun karena saat ini disponsori oleh perusahan asal Uni Emirat Arab tersebut maka namanya menjadi Etihad Stadium.

Docklands Melbourne

Salah satu sudut pemandangan di Docklands

Stadion ini dibangun pada tahun 2000 dan terkenal sebagai pusat AFL. Meski demikian bukan hanya AFL saja yang dipertandingkan di sini melainkan juga sepak bola, rugby dan cricket. Kesebelasan favorit saya di Hyundai A League yaitu Melbourne Victory beberapa kali menggelar pertandingan pentingnya di sini meski stadion utama mereka sendiri berada di AAMI.

Berbagai event sering diadakan di Docklands seperti Japanese Summer Festival. Cirque du Soleil juga dijadwalkan menggelar tour yang bertempat di Docklands. Untuk saat ini pusat perbelanjaan yang terkenal di wilayah ini adalah Harbour Town Shopping Centre. Meski pusat perbelanjaan ini sering disertakan dalam promosi pariwisata Melbourne namun toko-toko yang ada kebanyakan adalah cabang dari toko yang sudah ada di City dan menjual barang-barang lama yang didiskon. Jika Anda suka berburu barang diskon atau koleksi tertentu bisa jadi tempat ini menjadi tempat yang menarik dikunjungi. Saya sendiri beruntung mendapatkan topi Liverpool ORI buatan Adidas yang sudah tidak lagi bisa ditemukan dengan mudah. Ada beberapa yang menjualnya di Ebay namun harganya berkali-kali lipat dari yang saya dapat di salah satu outlet di Harbour Town ini.

Konstruksi

Hal yang paling tidak saya sukai dari Melbourne saat ini adalah maraknya konstruksi. Yah.. keindahan kota Melbourne sedikit terganggu karena maraknya konstruksi, antara lain di Swanston St tepatnya di depan gedung Universitas RMIT dan di Flemington Rd. Bukan hanya keindahannya terganggu namun kenyamanan pelajan kaki juga berkurang meski pihak konstruktor tampak bertanggug jawab dan semaksimal mungkin mengeliminir dampaknya. Dan jangan salah, pekerja bangunan (konstruksi) di sini sopan-sopan bukan seperti pekerja bangunan (buruh bangunan) di Indonesia yang sebagian besar bekerja sambil ngobrol atau bersuit-suit bak makhluk primitif kala ada wanita lewat ngiler2 .

Saat saya perhatikan, beberapa proyek baru dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2013. Sayang sekali saat itu saya sudah harus kembali ke tanah air sebelum sempat menikmati keindahan kota Melbourne tanpa proyek-proyek pembangunan yang sedang berlangsung.

Bicara soal bangunan kini di depan Flinders Street station berdiri Federation Square atau yang sering disebut juga sebagai Fed Square. Di sini berbagai macam kegiatan dan festival juga sering diadakan terutama pada saat Summer. Lima belas tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Melbourne bangunan ini belum ada. Menariknya lagi di Fed Square ini tersedia akses Wi-Fi gratis tanpa batas waktu. Tak sedikit orang yang duduk-duduk di sini sekedar untuk browsing, mengobrol atau minum kopi.

Dan asyiknya tinggal di Melbourne adalah: everybody minded their own business! Bukan seperti di Indonesia yang suka ngurusin urusan orang lain. Tapi jangan salah bukan berarti mereka tidak peduli terhadap sesama, justru sebaliknya kepekaan dan kepedulian mereka (Melbournian) terhadap terhadap sesama yang butuh pertolongan berjuta-juta kali lipat dibanding orang Asia termasuk Indonesia yang katanya ramah, sopan, dll lol