Krisis Kepemimpinan?

Krisis KepemimpinanKetika mendengar cerita mengenai para pemimpin di masa lalu kita sering membayangkan sosok pemimpin yang efektif, berkharisma dan berani mengambil keputusan. Sementara kita merasa para pemimpin masa kini sering tidak memenuhi kualitas yang diharapkan dari seorang pemimpin.

Kakek-kakek kita bercerita betapa hebatnya kepemimpinan seorang Jenderal Besar Soedirman, orang tua kita bercerita betapa besar kharisma seorang Soekarno atau Sultan HB IX, kita sendiri mengalami bahwa Soeharto sekalipun pada akhirnya harus diturunkan oleh rakyat karena berbagai tuduhan penyimpangan namun harus diakui sebagai kepemimpinannya yang efektif.

Belum lagi tokoh-tokoh di luar Indonesia seperti George Washington, Roosevelt, Eishenhower, Churchill, Margaret Thatcher, JFK, Mahatma Gandhi dan sebagainya. Tentu masing-masing juga memiliki kekurangan namun mereka telah menunjukkan diri sebagai pemimpin efektif, berani mengambil keputusan, berani bersikap serta mampu mengkomunikasikan visinya.

Merosotnya persepsi terhadap pemimpin masa kini tak hanya terjadi di Indonesia. Jika Anda membaca hasil survei yang dilakukan oleh Harvard Kenedy School tahun lalu, sebanyak 68% penduduk Amerika merasa bahwa saat ini sedang terjadi krisis kepemimpinan.

Pada survei lainnya, Gallup menyebut bahwa hanya 43% saja penduduk AS yang berpendapat bahwa Presiden Obama memimpin dengan baik. Bukan hanya di lembaga pemerintahan, kondisi di perusahaan pun tak jauh berbeda.

Kembali pada hasil survei Harvard Kenedy School; Militer, Mahkamah Agung, organisasi sosial dan institusi kesehatan masih dipersepsi positif dalam hal kepemimpinan oleh para responden. Sementara kantor berita, Konggres dan Wall Street adalah lembaga-lembaga yang dipersepsi paling negatif dalam hal kepemimpinannya. Bagaimana seandainya survei serupa dilakukan di Indonesia?

Tragisnya adalah bahwa dalam dua dekade terakhir ini investasi dalam pelatihan kepemimpinan jauh lebih besar ketimbang masa-masa sebelumnya baik di sektor publik maupun privat.

Jika memang nilai investasi dalam pengembangan dan pelatihan kepemimpinan sedemikian besar, lantas mengapa justru seolah pemimpin mas kini tidak lebih efektif ketimbang pemimpin di masa lalu?

Tidak mudah untuk menemukan jawabannya, namun mungkin dua pemikiran berikut bisa menjadi pertimbangan:

Pertama, masalah yang harus dihadapi oleh pemimpin sekarang ini jauh lebih kompleks dan lebih banyak dibanding pemimpin era sebelumnya. Bukan berarti bahwa masalah yang dihadapi pemimpin masa lalu lebih ringan, hanya saja mereka lebih punya banyak waktu untuk membuat keputusan dibanding pemimpin masa kini.

Kemudahan komunikasi di satu sisi memudahkan dan mempercepat jalur komunikasi, namun di lain sisi memberikan semakin sedkit waktu bagi seorang pemimpin untuk mempertimbangkan sebuah keputusan sebelum dibuat.

Bukan hanya itu, pemimpin masa kini harus membuat beberapa keputusan untuk isu-isu yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan dan banyak juga dari mereka yang memiliki agenda rapat demikian padat dalam satu hari.

Perubahan kondisi saat ini pun jauh lebih dinamis dan cepat daripada masa lalu, perubahan-perubahan tersebut turut memengaruhi pertimbangan atas sebuah keputusan sementara waktu untuk mempertimbangkannya semakin tipis.
Meski demikian pemimpin harus mampu mengatasi dan memanajemen kondisi-kondisi di atas serta tidak menjadikannya sebagai alasan permisif.

Kedua, pemimpin masa kini cenderung khawatir dan terlalu memikirkan reaksi publik atas keputusan atau pernyataan yang dibuatnya. Memang benar bahwa pemimpin harus mendengarkan aspirasi dari orang-orang yang dipimpinnya, memfasilitasi kepentingan banyak orang yang dipimpin. Namun mendengar dan memfasilitasi terlalu dilakukan secara berlebihan dewasa ini.

Dalam situasi tertentu, seorang pemimpin harus menyuarakan keputusannya, keyakinannya dan apa yang dianggapnya baik bagi organisasi. Apa yang baik bagi organisasi pasti akan baik pula bagi orang-orang di dalamnya.

Seorang pemimpin harus…. sekali lagi harus: berani mengambil posisi tidak populer! Keputusan terbaik bagi organisasi harus tetap dibuat meski banyak pihak yang menentangnya.

Sayangnya, pemimpin masa kini terlalu pengecut untuk membuat keputusan yang benar. Para birokrat lebih-lebih legislatif lebih suka melakukan tindakan berdasarkan polling, mana yang paling dikehendaki rakyat itulah yang di kerjakan terrlepas apa manfaatnya bagi negara. Demikian pula para CEO lebih suka mengambil keputusan sesuai keinginan para pemegang saham dan reaksi di bursa saham ketimbang berbuat benar bagi organisasi.

Pemimpin sejati menentukan visi kepemimpinan jangka pendek, menengah dan panjang sesuai visi organisasi selanjutnya berani memperjuangkan visi tersebut sekalipun banyak tentangan dalam perjalanannya.

Perhatikan mereka yang diakui sebagai pemimpin besar. Bukankah mereka orang-orang yang yakin pada visinya, berani tidak populer dan berani menghadapi para penentangnya? Jack Welch dan Steve Jobs adalah contoh dari sekian banyak pemimpin besar yang melakukannya.

Tentu pada akhirnya memperbandingkan antara pemimpin masa lalu dan pemimpin masa kini sesungguhnya bukan hal yang layak. Sebab masa yang berbeda melahirkan tantangan yang berbeda pula. Meski demikian perbandingan tersebut tetap bermanfaat untuk menjadi refleksi atau setidaknya melahirkan diskusi yang konstruktif.(Satrio)